Begitulah manusia ini menjaga dan memelihara asa kesyukuran pada Tuhannya. Keringatnya kerap mengalir. Melabuhkan diri pada tempat dimana kakinya berpijak. Mereka tuli? tidak. Mereka bahkan memanen cacian dari orang yang suka melempar caci. Lalu apakah mereka buta? sama sekali tidak. Terang-terangan orang di sekitarnya membunuh nurani suci melekat dalam dada. Ah. Merekalah yang selalu memiliki momentum dalam hidupnya. Begitulah asa kesyukuran pada Tuhannya.
Hidup. Kaki mereka. Tangan mereka. Telinga mereka. Mulut mereka. Pikiran mereka. Hati mereka. Semangat mereka. Semua hidup tanpa bayang keraguan. Itulah jati diri. Kuat mencengkerama. Langkah mereka menjulang tinggi. Padahal tak ada sayap. Itu bukan angan-angan kosong.
Tak sadar aku telah iri. Pada mereka yang tulangnya tahan banting. Yang kepalanya tertunduk bukan lesu. Melainkan pandangan yang tak terundang maksiat. Yang wajahnya merekah bagai bunga merona. Tebaran senyum bukan sekedar pesona. Yang tangannya berurat, tapi lembut. Yang kedua kakinya kian bengkak karena enggan kenal henti. Yang hatinya abadi untuk-Nya.
Aku iri dengan mereka.
Sabtu, 12 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
Pengkhianatan
Maafkan aku Rabbi.
Lidah ini kerap bertingkah jengah.
Tapi tak sadar, adalah pengkhianatan!
Terhadap tangan yang terbelenggu kaku.
Menampik, padahal berlutut pada kenistaan.
Menelusuri ruang yang bernama, hampa.
Hanya ada nilai hina di sana.
Aku tak mau seperti itu.
Begitulah yang aku tangkap dari sebuah slogan besar, "Knowledege is power, but character is more..". Mungkin adalah benar jika banyak untuk temukan manusia dengan kepala berbobot. Pikirannya menonjol, berenang-renang dengan ide-ide kreatif nan inovatif. Otaknya bak mulut yang berisik. Hanya saja, itu khianat. "Pepesan kosong". Mulutnya ucap, "Aku sudah lakukan ini, itu, dan sebagainya..". Begitulah cara tubuhnya khianati kepala di atasnya. Kerjanya kosong tak berisi.
Aku tak mau seperti itu.
Lidah ini kerap bertingkah jengah.
Tapi tak sadar, adalah pengkhianatan!
Terhadap tangan yang terbelenggu kaku.
Menampik, padahal berlutut pada kenistaan.
Menelusuri ruang yang bernama, hampa.
Hanya ada nilai hina di sana.
Aku tak mau seperti itu.
Begitulah yang aku tangkap dari sebuah slogan besar, "Knowledege is power, but character is more..". Mungkin adalah benar jika banyak untuk temukan manusia dengan kepala berbobot. Pikirannya menonjol, berenang-renang dengan ide-ide kreatif nan inovatif. Otaknya bak mulut yang berisik. Hanya saja, itu khianat. "Pepesan kosong". Mulutnya ucap, "Aku sudah lakukan ini, itu, dan sebagainya..". Begitulah cara tubuhnya khianati kepala di atasnya. Kerjanya kosong tak berisi.
Aku tak mau seperti itu.
Jumat, 04 Maret 2011
Yang aku tahu..
Aku takkan tahu rahasia ini. Hingga kelak saatnya menjelma takdir.
Yang aku tahu, dia adalah angin.
Yang berusaha selalu menyejukkan pandanganku dengan halal.
Yang aku tahu, dia adalah api.
Yang berusaha membakar selalu kayu-kayu semangat hingga terkumpul bulat.
Yang aku tahu, dia adalah awan.
Yang berusaha menyelimuti dari rasa gerah penatnya amanah.
Yang aku tahu, dia adalah surya.
Yang berusaha menghangatkanku dari dinginnya kemalasan, yang buatku kaku.
Yang aku tahu, dia adalah hujan.
Yang bulir-bulir air matanya mengalir deras saatku payah.
Dan yang aku juga tahu, tak perlu aku tahu kini.
Yang aku tahu, dia adalah angin.
Yang berusaha selalu menyejukkan pandanganku dengan halal.
Yang aku tahu, dia adalah api.
Yang berusaha membakar selalu kayu-kayu semangat hingga terkumpul bulat.
Yang aku tahu, dia adalah awan.
Yang berusaha menyelimuti dari rasa gerah penatnya amanah.
Yang aku tahu, dia adalah surya.
Yang berusaha menghangatkanku dari dinginnya kemalasan, yang buatku kaku.
Yang aku tahu, dia adalah hujan.
Yang bulir-bulir air matanya mengalir deras saatku payah.
Dan yang aku juga tahu, tak perlu aku tahu kini.
Sabtu, 26 Februari 2011
Keberanian
Bukan aku tak takut api, tetapi air punya daya. Berjalan melalui semak-semak, kodok pun tidak takut ular yang mulutnya cukup besar menelan dia hidup-hidup. Bahkan sel-sel imun tubuh tak pernah tahu juga makhluk asing apa yang akan masuk. Tetapi mereka tak pernah diam ketakutan, oleh karenanya respon tubuh terhadap benda asing akan selalu tampak. Jiwa-jiwa mereka berani.
Alangkah bijak Rasulullah yang bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (HR. Bukhori/Muslim). Bukan hanya masalah bagaimana berkuda, berenang, ataupun memanah. Rasulullah paham benar bahwa aktivitas itu adalah sarana untuk melatih keberanian semenjak kecil. Pernah berenang? Awalnya aku pun takut jika tenggelam. Hingga aku diajari, lahir keberanian.
Keberanian itu terlahir, menjelma dari kandung percobaan. Sekali, maupun kesekian kalinya percobaan itu.
Alangkah bijak Rasulullah yang bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (HR. Bukhori/Muslim). Bukan hanya masalah bagaimana berkuda, berenang, ataupun memanah. Rasulullah paham benar bahwa aktivitas itu adalah sarana untuk melatih keberanian semenjak kecil. Pernah berenang? Awalnya aku pun takut jika tenggelam. Hingga aku diajari, lahir keberanian.
Keberanian itu terlahir, menjelma dari kandung percobaan. Sekali, maupun kesekian kalinya percobaan itu.
Rabu, 09 Februari 2011
Segera Bereskan!
Dimana dia? Dimana tuan kecil yang bersarang dalam cangkang yang kuat itu? Begitu lemahkah dia bicara perintah? Tubuhku sudah terlalu kaku. Banyak rebah-rebah di atas kasur empuk. Sedikit sekali karya manis dari tangan yang terlanjur lemas.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Sabtu, 05 Februari 2011
Si Bahagia
Tanganku terpangku malas. Sambil kuperhatikan sesosok jiwa yang kepayahan. Tubuhnya kecil dan kurus. Tetesan keringatnya berlomba-lomba jatuh ke atas tanah liat. Tampak urat-urat tangannya menjulur dari ketiak yang terlihat. Menuju hingga kepalan tangan yang sedang menggegam sesuatu. Dalam terik dekapan hangat mentari pagi. Keras sekali beliau bekerja.
Tetapi tidak. Isi kepalanya sejuk. Tubuhnya berdusta kepadaku. Kulihat raut wajahnya tanpa kerut. Panasnya ladang tidak kuasa mencekik jiwanya. Padahal payah. Malah pikirnya diselimuti bahagia nan tenang. Katanya menunggu-nunggu benih tertanam telah tumbuh kekar kelak.
Apa yang membuatmu bahagia Bapak? "Kalian." Jawabnya. Benar. Indahnya kelak, bukan kini.
Tetapi tidak. Isi kepalanya sejuk. Tubuhnya berdusta kepadaku. Kulihat raut wajahnya tanpa kerut. Panasnya ladang tidak kuasa mencekik jiwanya. Padahal payah. Malah pikirnya diselimuti bahagia nan tenang. Katanya menunggu-nunggu benih tertanam telah tumbuh kekar kelak.
Apa yang membuatmu bahagia Bapak? "Kalian." Jawabnya. Benar. Indahnya kelak, bukan kini.
Sabtu, 29 Januari 2011
Belajar pada Air Mata
Kami hidup berawal dari menangis. Jerit sekali. Seperti embik yang kehilangan rumput. Tapi begitulah kami memulai hidup. Mencintai dengan menangis. Membenci pula dengan menangis. Ah. Kami tidak sedang membuat hujan. Tapi begitulah kami.
Mari belajar pada air mata. Karena mereka tidak mau sekedar turun dan menetes. Ada yang ingin disampaikan. Mereka meresap dalam sanubari yang bergejolak. Mereka menyejukkan jiwa yang terlunta luka akibat aliran emosi yang menyengat. Menumbuhkan bunga-bunga kecil yang indah. Yang melambai-lambaikan kalimat kesopanan. "Bergegaslah setelah tangisanmu ini. Bergembiralah."
Mari belajar pada air mata. Karena mereka tidak mau sekedar turun dan menetes. Ada yang ingin disampaikan. Mereka meresap dalam sanubari yang bergejolak. Mereka menyejukkan jiwa yang terlunta luka akibat aliran emosi yang menyengat. Menumbuhkan bunga-bunga kecil yang indah. Yang melambai-lambaikan kalimat kesopanan. "Bergegaslah setelah tangisanmu ini. Bergembiralah."
Langganan:
Postingan (Atom)