Bukan aku tak takut api, tetapi air punya daya. Berjalan melalui semak-semak, kodok pun tidak takut ular yang mulutnya cukup besar menelan dia hidup-hidup. Bahkan sel-sel imun tubuh tak pernah tahu juga makhluk asing apa yang akan masuk. Tetapi mereka tak pernah diam ketakutan, oleh karenanya respon tubuh terhadap benda asing akan selalu tampak. Jiwa-jiwa mereka berani.
Alangkah bijak Rasulullah yang bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (HR. Bukhori/Muslim). Bukan hanya masalah bagaimana berkuda, berenang, ataupun memanah. Rasulullah paham benar bahwa aktivitas itu adalah sarana untuk melatih keberanian semenjak kecil. Pernah berenang? Awalnya aku pun takut jika tenggelam. Hingga aku diajari, lahir keberanian.
Keberanian itu terlahir, menjelma dari kandung percobaan. Sekali, maupun kesekian kalinya percobaan itu.
Sabtu, 26 Februari 2011
Rabu, 09 Februari 2011
Segera Bereskan!
Dimana dia? Dimana tuan kecil yang bersarang dalam cangkang yang kuat itu? Begitu lemahkah dia bicara perintah? Tubuhku sudah terlalu kaku. Banyak rebah-rebah di atas kasur empuk. Sedikit sekali karya manis dari tangan yang terlanjur lemas.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Sabtu, 05 Februari 2011
Si Bahagia
Tanganku terpangku malas. Sambil kuperhatikan sesosok jiwa yang kepayahan. Tubuhnya kecil dan kurus. Tetesan keringatnya berlomba-lomba jatuh ke atas tanah liat. Tampak urat-urat tangannya menjulur dari ketiak yang terlihat. Menuju hingga kepalan tangan yang sedang menggegam sesuatu. Dalam terik dekapan hangat mentari pagi. Keras sekali beliau bekerja.
Tetapi tidak. Isi kepalanya sejuk. Tubuhnya berdusta kepadaku. Kulihat raut wajahnya tanpa kerut. Panasnya ladang tidak kuasa mencekik jiwanya. Padahal payah. Malah pikirnya diselimuti bahagia nan tenang. Katanya menunggu-nunggu benih tertanam telah tumbuh kekar kelak.
Apa yang membuatmu bahagia Bapak? "Kalian." Jawabnya. Benar. Indahnya kelak, bukan kini.
Tetapi tidak. Isi kepalanya sejuk. Tubuhnya berdusta kepadaku. Kulihat raut wajahnya tanpa kerut. Panasnya ladang tidak kuasa mencekik jiwanya. Padahal payah. Malah pikirnya diselimuti bahagia nan tenang. Katanya menunggu-nunggu benih tertanam telah tumbuh kekar kelak.
Apa yang membuatmu bahagia Bapak? "Kalian." Jawabnya. Benar. Indahnya kelak, bukan kini.
Sabtu, 29 Januari 2011
Belajar pada Air Mata
Kami hidup berawal dari menangis. Jerit sekali. Seperti embik yang kehilangan rumput. Tapi begitulah kami memulai hidup. Mencintai dengan menangis. Membenci pula dengan menangis. Ah. Kami tidak sedang membuat hujan. Tapi begitulah kami.
Mari belajar pada air mata. Karena mereka tidak mau sekedar turun dan menetes. Ada yang ingin disampaikan. Mereka meresap dalam sanubari yang bergejolak. Mereka menyejukkan jiwa yang terlunta luka akibat aliran emosi yang menyengat. Menumbuhkan bunga-bunga kecil yang indah. Yang melambai-lambaikan kalimat kesopanan. "Bergegaslah setelah tangisanmu ini. Bergembiralah."
Mari belajar pada air mata. Karena mereka tidak mau sekedar turun dan menetes. Ada yang ingin disampaikan. Mereka meresap dalam sanubari yang bergejolak. Mereka menyejukkan jiwa yang terlunta luka akibat aliran emosi yang menyengat. Menumbuhkan bunga-bunga kecil yang indah. Yang melambai-lambaikan kalimat kesopanan. "Bergegaslah setelah tangisanmu ini. Bergembiralah."
Rabu, 19 Januari 2011
Allah, Mohon Ridhoi.
Dahulu aku berenang-renang tenggelam dalam perut ibunda. Huh. Penantianku panjang. Hampir satu tahun. Tak pernah kurasakan nafas udara disana. Apalagi pegal. Namun aku lemah. Tapi ibunda melindungi. Dan aku pula tak pernah tahu dan sadar ketika ku keluar belitan masalah sudah siap membentang. Beruntung jika mereka muncul di sana. Banyak sekali masalah bisa datang sebelum itu.
Aku keluar tak punya apa-apa. Apalagi daya. Sekali lagi, ibunda melindungiku. Ah. Andai beragam kata telah kupunyai saat itu. Ucapku, Allah Maha Besar. Telah turunkan pahlawan bagi semua calon pahlawan. Telah karuniakan cinta dan kasih sayang lewatnya. Telah tanamkan nikmat kehidupan bagi kami berdua. Segala puji untuk-Nya.
Ibunda. Puisi untukmu sudah banyak sekali. Bahkan ribuan. Doa untukmu juga tidak kalah. Bahkan setiap waktu. Wajar sekali, Ibunda. Wajar. Puisi bagi seorang pujangga adalah ungkapan dalam dari lubuk jiwa. Doa juga adalah pamungkas seseorang untuk larut dalam tangisan. Lagi-lagi juga perasaan. Hati jadi banyak bicara. Ketika mulut tak mampu, tangan tak kuasa. Cinta berwujud bukan mainan. Ini pekerjaan yang sesungguhnya. Begitulah, ibunda.
Ibunda. Tangisanku waktu kecil pasti buatmu begitu kesal. Apalagi aku menangis tak sendirian. Kembaranku pun menangis di saat yang bersamaan. Aku bayangkan tangisan kami seperti alunan melodi musik kasar. Aku malu. Karna cuma itu cara aku khawatir kehilangan kasih sayangmu.
Ibunda. Kini aku telah beranjak usia kepada dua. Umurku sudah lebih 20 tahun. Aku berpikir untuk terlepas. Tetapi engkau masih anggapku asuhan yang masih akan hilang jika dilepas. Aku tidak masalah. Aku tahu keterbatasanku. Aku juga tahu kasih sayangmu. Tapi inilah kesempatanku memilih menjadi dewasa. Aku ingin cepat-cepat membalas semua yang telah engkau lakukan. Ya. Kebahagianmu itu bahagiaku. Allah, mohon ridhoi.
Aku keluar tak punya apa-apa. Apalagi daya. Sekali lagi, ibunda melindungiku. Ah. Andai beragam kata telah kupunyai saat itu. Ucapku, Allah Maha Besar. Telah turunkan pahlawan bagi semua calon pahlawan. Telah karuniakan cinta dan kasih sayang lewatnya. Telah tanamkan nikmat kehidupan bagi kami berdua. Segala puji untuk-Nya.
Ibunda. Puisi untukmu sudah banyak sekali. Bahkan ribuan. Doa untukmu juga tidak kalah. Bahkan setiap waktu. Wajar sekali, Ibunda. Wajar. Puisi bagi seorang pujangga adalah ungkapan dalam dari lubuk jiwa. Doa juga adalah pamungkas seseorang untuk larut dalam tangisan. Lagi-lagi juga perasaan. Hati jadi banyak bicara. Ketika mulut tak mampu, tangan tak kuasa. Cinta berwujud bukan mainan. Ini pekerjaan yang sesungguhnya. Begitulah, ibunda.
Ibunda. Tangisanku waktu kecil pasti buatmu begitu kesal. Apalagi aku menangis tak sendirian. Kembaranku pun menangis di saat yang bersamaan. Aku bayangkan tangisan kami seperti alunan melodi musik kasar. Aku malu. Karna cuma itu cara aku khawatir kehilangan kasih sayangmu.
Ibunda. Kini aku telah beranjak usia kepada dua. Umurku sudah lebih 20 tahun. Aku berpikir untuk terlepas. Tetapi engkau masih anggapku asuhan yang masih akan hilang jika dilepas. Aku tidak masalah. Aku tahu keterbatasanku. Aku juga tahu kasih sayangmu. Tapi inilah kesempatanku memilih menjadi dewasa. Aku ingin cepat-cepat membalas semua yang telah engkau lakukan. Ya. Kebahagianmu itu bahagiaku. Allah, mohon ridhoi.
Minggu, 16 Januari 2011
Touring D'West Java

Kedua tangan menggenggam besi berjalan. Sepasang mata selalu memandang sekitar jalan. Berlalu lalang kendaraan di kanan kiri. Gunung-gunung bak mengawasi laju kami dalam perut mereka. Pepohonan bersautan menyambut. Hingga ombak-ombak berlari berlomba ke pantai, berdesir keras memecah. Sambutan badai pun tak mau ketinggalan cerita. Subhanallah, Indah. Syukur.
Cerita perjalanan yang luar biasa. Hampir-hampir isi pena akan habiskan puluhan lembar cerita drama untuknya. Lengkap. Sangkaan kami dibalas dengan dahsyat. Allah berikan pandangan nyata kebesaran-Nya. Gunung, bukit, lautan, dan telaga. Angin, ombak, hujan, dan tanah. Lelah memang hadapi mereka. Namun ganjarannya lebih dinikmati. Betapa agungnya Engkau.
Salah satu yang menarik adalah perjalanan menelusuri hamparan bukit di dekat pantai selatan. Aku tak tahu persis letak bukit itu. Yang aku tahu hanyalah rentang panjang jalannya yang mencapai puluhan kilometer. Atau bahkan ratusan. Jalan lurus nan halus cuma mau ambil bagian kecil di sana. Malah lika-liku dan lubang-lubang jalan yang bertebaran luas. Tetapi sekali lagi, mata kamera takkan mampu menikmati seindah pandangan dua bola mata ini. Sensasional.
Setidaknya kami belajar tentang ketakutan. Sehingga kami tahu saat keberanian muncul sebagai pahlawan. Pengalaman berharga Allah berikan kepada banyak orang. Namun hikmahnya hanya ditangkap oleh segelintir darinya. Kami belajar untuk itu.
Kamis, 13 Januari 2011
Straight Forward!
Bagai berjalan dalam celah lembah. Melihat sekitar hanyalah tembok batu yang gagah. Tidak ada pilihan untuk maju lurus tanpa berbelok. Jika terantuk, benturan jadi mengingatkan. Tak kuasa tahu apa yang ada dibalik batu. Yang tahu hanya batu.
Tapi jalan bukan tak berujung. Selalu ada rerumputan yang menunggu di depan. Selalu ada laut luas yang siap terbentang di mata. Indahnya bukan di benak. Hanya ada dalam rahasia-Nya.
Begitu juga dengan kita. Kita selalu merasa terkungkung dengan apa yang telah diatur oleh-Nya. Keluhan selalu terurai dalam cemoohan jika ada yang mencoba tegakkan. Ya begitulah nasib aturan itu. Punya kesan ekstreme dan kaku.
Aku cuma tidak habis pikir. Banyak sekali orang ingin keluar dari pagar-pagar-Nya. Kondisi selalu jadi tameng. Ketidakmampuan jadi peringan. Ketidaktahuan malah jadi kambing hitamnya. Apakah pagar itu terlihat begitu usang?
Kita hidup seimbang. Keburukan itu diimbangi kebaikan, bukan sebaliknya menyeimbangkan kebaikan dengan kekhilafan. Aku tak bisa tahu jika keburukan yang pertama adalah momentum untuk keburukan selanjutnya. Yang lebih menakutkan ketika buruknya tak bisa dibalikkan kembali. Tetapi aku sangat penasaran jika kebaikan pertama menjadi tangga kebaikan selanjutnya.
Syukur. Aku harus tetap ingin di celah lembah itu.
Tapi jalan bukan tak berujung. Selalu ada rerumputan yang menunggu di depan. Selalu ada laut luas yang siap terbentang di mata. Indahnya bukan di benak. Hanya ada dalam rahasia-Nya.
Begitu juga dengan kita. Kita selalu merasa terkungkung dengan apa yang telah diatur oleh-Nya. Keluhan selalu terurai dalam cemoohan jika ada yang mencoba tegakkan. Ya begitulah nasib aturan itu. Punya kesan ekstreme dan kaku.
Aku cuma tidak habis pikir. Banyak sekali orang ingin keluar dari pagar-pagar-Nya. Kondisi selalu jadi tameng. Ketidakmampuan jadi peringan. Ketidaktahuan malah jadi kambing hitamnya. Apakah pagar itu terlihat begitu usang?
Kita hidup seimbang. Keburukan itu diimbangi kebaikan, bukan sebaliknya menyeimbangkan kebaikan dengan kekhilafan. Aku tak bisa tahu jika keburukan yang pertama adalah momentum untuk keburukan selanjutnya. Yang lebih menakutkan ketika buruknya tak bisa dibalikkan kembali. Tetapi aku sangat penasaran jika kebaikan pertama menjadi tangga kebaikan selanjutnya.
Syukur. Aku harus tetap ingin di celah lembah itu.
Langganan:
Postingan (Atom)