Jika kita pernah merasa senang, maka sebenarnya kita pernah merasa apa itu kesedihan.
Jika kita pernah merasa hebat, maka sebenarnya kita pun pernah merasa lemah.
Jika kita pernah merasa kaya, maka sebenarnya kita juga tahu bagaimana rasanya tidak memiliki apapun.
Maka, bersyukurlah hidup kita tidak penuh dengan apa yang kita sebut senang, hebat, mau...
Sabtu, 18 September 2010
Rabu, 08 September 2010
Bagaimana Proses Akhir Kehidupan Manusia?
Tajuk di atas bukanlah sesuatu yang asing didengar oleh kita. Dalam berbagai kajian keilmuan telah menghasilkan berbagai definisi pula tentang bagaimana proses akhir kehidupan manusia, atau yang sering kita sebut kematian, khususnya bila ditinjau dari segi ilmu kedokteran terkini. Hal yang berbeda di sini adalah pembahasannya yang mengkombinasikan antara ilmu kedokteran modern dengan ilmu syariat islam. Pembahasan ini mengambil peran dokter sebagai orang yang paling kompeten dalam melihat proses kehidupan hingga kematian seseorang secara ilmiah dan badaniyah dengan menyandingkan peran para ulama syariat dalam menentukan dasar-dasar, batas-batas, dan syarat-syarat umum yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dokter di dalam menjalankan profesinya. Latar belakang yang paling mendasari kajian dengan tema semacam ini adalah adanya hukum yang berkenaan dengan masalah kematian seseorang baik sebelum maupun sesudahnya.
Tidak dapat dipungkiri, pembahasan tentang batas akhir kehidupan manusia terlihat lebih sulit dibandingkan dengan batas awal kehidupan manusia dikarenakan nash dari Al Quran dan hadits yang tidak sejelas saat menjelaskan mengenai landasan ilmu awal sebuah kehidupan. Sudah kita ketahui bahwa proses awal pembentukan manusia itu dengan gamblang Allah SWT jelaskan dalam Al Quran (Al Hajj : 5) dan Rasul jelaskan pula dalam sabda beliau, “Sesungguhnya kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara, yaitu ditentukan rezeki, waktu kematian, amalnya dan nasib baiknya atau buruknya.” (Al Hadits Ibnu Ma’sud). Berbeda halnya dengan proses akhir kehidupan seorang manusia yang tidak memiliki nash yang jelas dan langsung sehingga nash yang digunakan banyak diambil dari proses awal kehidupan manusia itu sendiri.
Acuan Pembahasan
Dasar pembahasan dan gambaran peran ulama sebagai ilmu dasar pembahasan ke depan diadopsi dari referensi buku “Fiqih Kedokteran” karya Dr. M. Nu’aim Yasin. Acuan yang digunakan ada dua, pertama adalah bahwa akhir kehidupan manusia adalah kebalikan dari awal hidupnya yang tersirat adanya keterkaitan antara roh dan jasad di sana sehingga kita sepakat bahwa akhir hidup adalah perpisahan antara roh dan jasad. Acuan kedua adalah bahwa roh merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang memungkinkan bagi manusia untuk membahas ciri-ciri, sifat-sifat, aktivitas, pengaruhnya terhadap jasad, perannya dalam jasad, waktu bertemu dan waktu berpisahnya dengan jasad. Dalam acuan yang kedua, tidak dapat dipungkiri ada sedikit pertentangan dari beberapa kalangan yang mendasarkan surat Al Isro ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS 17 : 85), sebagai alasan untuk tidak membahas masalah yang berkenaan dengan roh. Namun, di sini kita mengambil jalur pertengahan yaitu membahas roh bukan dari hakikat dzat-nya melainkan dari aspek selain itu sebab sebagian ulama sepakat dengan mendasari bahwa Rasulullah SAW juga telah banyak menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan roh seperti awal pertemuannya dengan jasad, kelembutannya, perkenalannya, dan sebagainya. Acuan yang digunakan tersebut memungkinkan kita untuk membahas tentang tema yang telah ditawarkan di atas.
Pembahasan akan dimulai dari peran yang dilakukan para ulama syariat dalam menggambarkan roh dan hubungannya dengan jasad, serta makna hidup dan mati.
Peran Ulama Syariat
Beberapa ulama banyak menjelaskan hubungan antara roh dan badan manusia. Berikut kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan ijtihad mereka.
• Menurut pandangan mereka bahwa manusia terdiri dari jasad dan roh, dan tidak disebut manusia jika hanya memiliki salah satu unsur saja tanpa yang lainnya.
• Bahwa jasad adalah tempatnya roh di dunia ini selama masa hidup tertentu bagi manusia.
• Bahwa ilmu, pengetahuan, perasaan, dan pilihan adalah di antara tugas roh yang paling penting.
• Bahwa tugas jasad dengan segala anggotanya adalah mengabdi kepada roh dan menjalankan perintahnya dan tidak ada tugas lain baginya dalam kehidupan ini.
• Bahwa tugas-tugas roh bisa dijalankan melalui perantara jasad di satu sisi, dan di sisi lain dapat pula dijalankan tanpa perantaranya.
• Jasad manusia tidak bisa menjalankan aktivitas pilihan di dunia ini tanpa perintah dari roh. Dan segala sesuatu yang bersumber dari roh berasal dari dari ketetapan Allah SWT.
• Kematian artinya perpisahan antara roh dengan jasad dan itu terjadi pada manusia manakala jasad tidak mampu menjalankan perintah roh.
• Adanya rasa, pengetahuan, ataupun tindakan pemilihan sekecil apapun menunjukkan adanya roh di dalam jasad. Dan dengan tidak adanya tanda-tanda tersebut sama sekali menunjukkan roh yang sudah terpisah dengan jasad.
• Adanya gerakan refleks saja tidak ada maknanya dan hanya seperti kehidupan hewani yang tidak mempunyai roh.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, peran terbesar ulama adalah dalam menentukan suatu dzat yang tidak menjadi medan bahasan bagi ahli kedokteran, yaitu ruh. Sebuah makhluk yang ternyata menjadi pusat pimpinan dalam tubuh manusia menurut para ulama. Jasad tidak berkehendak melainkan ruh yang mengendalikan. Maka bila ruh itu telah terpisah dari jasad, dapat kita sebut manusia itu telah mati.
Namun tidak ada salahnya jika kita melihat dan membandingkannya dengan meninjau kajian tersebut dari sisi kedokteran modern.
Peran Para Ahli Kedokteran
Jasad manusia yang terlihat dan tampak secara wujud, atau yang biasa kita sebut tubuh manusia, merupakan medan bahasan para ahli kedokteran mulai dari konsep secara biomolekuler sampai ke dalam system organ yang saling berkorelasi satu sama lain. Kajian ini tidak ada tujuan lain kecuali agar tubuh manusia dapat tetap sehat sehingga dapat berfungsi normal sebagaimana mestinya. Bisa jadi, inilah salah satu yang membuat peran seorang dokter itu mulia.
Di antara kajian secara ilmiah dalam bidang kedokteran, ada suatu organ yang ternyata memiliki karakteristik sebagai pusat pimpinan penggerak dari tubuh manusia. Organ tersebut adalah otak. Selain sebagai pusat pengendali organ-organ motorik untuk berfungsi dan organ-organ sensori untuk menerima rangsangan dari lingkungan, otak juga memiliki beberapa struktur yang berfungsi dalam pengolahan informasi, penyimpanan memori, serta emosi. Ditemukan pula bahwa rasa takut, cemas, bahagia, senang, marah, itu juga merupakan hasil dari aktivitas otak. Tingkat kesadaran seseorang hingga pengaturan aktivitas pernapasan juga diatur oleh otak. Maka wajar jika otak ini sakit ataupun rusak, maka dapat menyebabkan fungsi tubuh yang lain juga terganggu atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itulah, kematian bagi profesi dokter adalah kematian otak, atau kematian batang otak yang dibuktikan dengan tidak adanya respon otak terhadap lingkungan seperti refleks pupil.
Jadi, peran para ahli kedokteran bagi kajian ini adalah mendefinisikan dan menentukan segala hal yang berkenaan tentang jasad, yang telah disebutkan pula pada kajian para ulama. Hal ini tentunya dikaitkan dengan masalah menentukan telah mati atau belumnya seorang manusia yang menjadi pertanyaan utama dari tema di atas.
Kombinasi Antara Kajian Ulama dan Kajian Kedokteran
Sepintas, bagi pembahas yang tergesa-gesa akan melihat hal di atas sebagai kedua hal yang bertentangan. Bagi para ulama, roh sebagai pusat kehidupan manusia. Sedangkan bagi ahli kedokteran, otak menjadi pusatnya. Sehingga dalam menentukan akhir kehidupan manusia, wajar jika manusia memilih untuk melihatnya dari yang berwujud dan terlihat. Ini merupakan pandangan yang materialistis. Melihat berbagai hal dalam pandangan yang berbentuk materi sebagai akhir dan pusatnya.
Dalam kajian ini, marilah kita melihat dari pribadi serta prinsip-prinsip keislaman kita. Ada satu konsep yang penting di sini bahwa tidak ada suatu yang abstrak yang dihasilkan dari sesuatu yang bersifat materi. Perasaan marah, benci, senang, kesemuanya adalah hasil yang bersifat abstrak. Sedangkan otak adalah suatu hal yang bersifat materi. Maka logisnya tidak mungkin dzat yang bernama “perasaan” itu merupakan hasil dari aktivitas otak, sebab sampai saat ini pun para ahli kedokteran hanya dapat melihat perubahan aktivitas otak (neurotranstmitter) akibat dari berubahnya perasaan itu sendiri. Tidak ada yang dapat mendefinisikan secara jelas dan nyata tentang sesuatu yang bernama “perasaan”. Hal itu sebenarnya membuktikan bahwa sesungguhnya roh itu ada. Namun ia tidak dapat diukur, sebab Allah SWT tidak menganugrahkan manusia pengetahuan tentang hakikat roh itu sendiri.
Maka logis jika hasil pemaduan di antara keduanya adalah bahwa otak adalah perantara bagi roh untuk mengatur segala aktivitas dari jasad. Rohlah yang mengetahui berbagai macam pengetahuan sehingga membutuhkan otak sebagai perantara untuk belajar dan menangkap berbagai informasi. Rohlah yang mengatur segala gerakan jasad yang berkehendak sehingga otak pula yang menjadi perantara agar organ-organ tubuh yang lain dapat bergerak sesuai dengan fungsinya. Hingga sampai kepada kesimpulan bahwa bila otak tersebut rusak dan mati maka roh tidak mampu membuat perintah kepada otak sehingga roh akan diambil dari jasad oleh malaikat maut, yang bahasan ini bukanlah area untuk dibahas di sini. Aktivitas otak yang mati itulah yang dijadikan para ahli kedokteran dalam menentukan waktu serta tanda-tanda kematian seseorang. Hingga saat itulah batas akhir kehidupan manusia dapat didefinisikan.
Proses yang dibahas di atas bukanlah sesuatu yang mutlak. Hal ini disebabkan prasangka-prasangka yang dominan dalam mendefinisikan temuan tersebut. Kajian ini pun tidak dapat secara detail menjelaskan bagaimana menentukan kematian seseorang hingga teknisnya. Namun setidaknya, kode etik (akhlak) dapat diberlakukan secara legal di sini dengan melihat hasil dari kajian tersebut sebab proses kematian seseorang bukanlah sesuatu yang hanya menyangkut matinya materi (otak) melainkan juga hilangnya materi abstrak (roh) yang hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT. Wallahua’lam.
Tidak dapat dipungkiri, pembahasan tentang batas akhir kehidupan manusia terlihat lebih sulit dibandingkan dengan batas awal kehidupan manusia dikarenakan nash dari Al Quran dan hadits yang tidak sejelas saat menjelaskan mengenai landasan ilmu awal sebuah kehidupan. Sudah kita ketahui bahwa proses awal pembentukan manusia itu dengan gamblang Allah SWT jelaskan dalam Al Quran (Al Hajj : 5) dan Rasul jelaskan pula dalam sabda beliau, “Sesungguhnya kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara, yaitu ditentukan rezeki, waktu kematian, amalnya dan nasib baiknya atau buruknya.” (Al Hadits Ibnu Ma’sud). Berbeda halnya dengan proses akhir kehidupan seorang manusia yang tidak memiliki nash yang jelas dan langsung sehingga nash yang digunakan banyak diambil dari proses awal kehidupan manusia itu sendiri.
Acuan Pembahasan
Dasar pembahasan dan gambaran peran ulama sebagai ilmu dasar pembahasan ke depan diadopsi dari referensi buku “Fiqih Kedokteran” karya Dr. M. Nu’aim Yasin. Acuan yang digunakan ada dua, pertama adalah bahwa akhir kehidupan manusia adalah kebalikan dari awal hidupnya yang tersirat adanya keterkaitan antara roh dan jasad di sana sehingga kita sepakat bahwa akhir hidup adalah perpisahan antara roh dan jasad. Acuan kedua adalah bahwa roh merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang memungkinkan bagi manusia untuk membahas ciri-ciri, sifat-sifat, aktivitas, pengaruhnya terhadap jasad, perannya dalam jasad, waktu bertemu dan waktu berpisahnya dengan jasad. Dalam acuan yang kedua, tidak dapat dipungkiri ada sedikit pertentangan dari beberapa kalangan yang mendasarkan surat Al Isro ayat 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS 17 : 85), sebagai alasan untuk tidak membahas masalah yang berkenaan dengan roh. Namun, di sini kita mengambil jalur pertengahan yaitu membahas roh bukan dari hakikat dzat-nya melainkan dari aspek selain itu sebab sebagian ulama sepakat dengan mendasari bahwa Rasulullah SAW juga telah banyak menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan roh seperti awal pertemuannya dengan jasad, kelembutannya, perkenalannya, dan sebagainya. Acuan yang digunakan tersebut memungkinkan kita untuk membahas tentang tema yang telah ditawarkan di atas.
Pembahasan akan dimulai dari peran yang dilakukan para ulama syariat dalam menggambarkan roh dan hubungannya dengan jasad, serta makna hidup dan mati.
Peran Ulama Syariat
Beberapa ulama banyak menjelaskan hubungan antara roh dan badan manusia. Berikut kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan ijtihad mereka.
• Menurut pandangan mereka bahwa manusia terdiri dari jasad dan roh, dan tidak disebut manusia jika hanya memiliki salah satu unsur saja tanpa yang lainnya.
• Bahwa jasad adalah tempatnya roh di dunia ini selama masa hidup tertentu bagi manusia.
• Bahwa ilmu, pengetahuan, perasaan, dan pilihan adalah di antara tugas roh yang paling penting.
• Bahwa tugas jasad dengan segala anggotanya adalah mengabdi kepada roh dan menjalankan perintahnya dan tidak ada tugas lain baginya dalam kehidupan ini.
• Bahwa tugas-tugas roh bisa dijalankan melalui perantara jasad di satu sisi, dan di sisi lain dapat pula dijalankan tanpa perantaranya.
• Jasad manusia tidak bisa menjalankan aktivitas pilihan di dunia ini tanpa perintah dari roh. Dan segala sesuatu yang bersumber dari roh berasal dari dari ketetapan Allah SWT.
• Kematian artinya perpisahan antara roh dengan jasad dan itu terjadi pada manusia manakala jasad tidak mampu menjalankan perintah roh.
• Adanya rasa, pengetahuan, ataupun tindakan pemilihan sekecil apapun menunjukkan adanya roh di dalam jasad. Dan dengan tidak adanya tanda-tanda tersebut sama sekali menunjukkan roh yang sudah terpisah dengan jasad.
• Adanya gerakan refleks saja tidak ada maknanya dan hanya seperti kehidupan hewani yang tidak mempunyai roh.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, peran terbesar ulama adalah dalam menentukan suatu dzat yang tidak menjadi medan bahasan bagi ahli kedokteran, yaitu ruh. Sebuah makhluk yang ternyata menjadi pusat pimpinan dalam tubuh manusia menurut para ulama. Jasad tidak berkehendak melainkan ruh yang mengendalikan. Maka bila ruh itu telah terpisah dari jasad, dapat kita sebut manusia itu telah mati.
Namun tidak ada salahnya jika kita melihat dan membandingkannya dengan meninjau kajian tersebut dari sisi kedokteran modern.
Peran Para Ahli Kedokteran
Jasad manusia yang terlihat dan tampak secara wujud, atau yang biasa kita sebut tubuh manusia, merupakan medan bahasan para ahli kedokteran mulai dari konsep secara biomolekuler sampai ke dalam system organ yang saling berkorelasi satu sama lain. Kajian ini tidak ada tujuan lain kecuali agar tubuh manusia dapat tetap sehat sehingga dapat berfungsi normal sebagaimana mestinya. Bisa jadi, inilah salah satu yang membuat peran seorang dokter itu mulia.
Di antara kajian secara ilmiah dalam bidang kedokteran, ada suatu organ yang ternyata memiliki karakteristik sebagai pusat pimpinan penggerak dari tubuh manusia. Organ tersebut adalah otak. Selain sebagai pusat pengendali organ-organ motorik untuk berfungsi dan organ-organ sensori untuk menerima rangsangan dari lingkungan, otak juga memiliki beberapa struktur yang berfungsi dalam pengolahan informasi, penyimpanan memori, serta emosi. Ditemukan pula bahwa rasa takut, cemas, bahagia, senang, marah, itu juga merupakan hasil dari aktivitas otak. Tingkat kesadaran seseorang hingga pengaturan aktivitas pernapasan juga diatur oleh otak. Maka wajar jika otak ini sakit ataupun rusak, maka dapat menyebabkan fungsi tubuh yang lain juga terganggu atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itulah, kematian bagi profesi dokter adalah kematian otak, atau kematian batang otak yang dibuktikan dengan tidak adanya respon otak terhadap lingkungan seperti refleks pupil.
Jadi, peran para ahli kedokteran bagi kajian ini adalah mendefinisikan dan menentukan segala hal yang berkenaan tentang jasad, yang telah disebutkan pula pada kajian para ulama. Hal ini tentunya dikaitkan dengan masalah menentukan telah mati atau belumnya seorang manusia yang menjadi pertanyaan utama dari tema di atas.
Kombinasi Antara Kajian Ulama dan Kajian Kedokteran
Sepintas, bagi pembahas yang tergesa-gesa akan melihat hal di atas sebagai kedua hal yang bertentangan. Bagi para ulama, roh sebagai pusat kehidupan manusia. Sedangkan bagi ahli kedokteran, otak menjadi pusatnya. Sehingga dalam menentukan akhir kehidupan manusia, wajar jika manusia memilih untuk melihatnya dari yang berwujud dan terlihat. Ini merupakan pandangan yang materialistis. Melihat berbagai hal dalam pandangan yang berbentuk materi sebagai akhir dan pusatnya.
Dalam kajian ini, marilah kita melihat dari pribadi serta prinsip-prinsip keislaman kita. Ada satu konsep yang penting di sini bahwa tidak ada suatu yang abstrak yang dihasilkan dari sesuatu yang bersifat materi. Perasaan marah, benci, senang, kesemuanya adalah hasil yang bersifat abstrak. Sedangkan otak adalah suatu hal yang bersifat materi. Maka logisnya tidak mungkin dzat yang bernama “perasaan” itu merupakan hasil dari aktivitas otak, sebab sampai saat ini pun para ahli kedokteran hanya dapat melihat perubahan aktivitas otak (neurotranstmitter) akibat dari berubahnya perasaan itu sendiri. Tidak ada yang dapat mendefinisikan secara jelas dan nyata tentang sesuatu yang bernama “perasaan”. Hal itu sebenarnya membuktikan bahwa sesungguhnya roh itu ada. Namun ia tidak dapat diukur, sebab Allah SWT tidak menganugrahkan manusia pengetahuan tentang hakikat roh itu sendiri.
Maka logis jika hasil pemaduan di antara keduanya adalah bahwa otak adalah perantara bagi roh untuk mengatur segala aktivitas dari jasad. Rohlah yang mengetahui berbagai macam pengetahuan sehingga membutuhkan otak sebagai perantara untuk belajar dan menangkap berbagai informasi. Rohlah yang mengatur segala gerakan jasad yang berkehendak sehingga otak pula yang menjadi perantara agar organ-organ tubuh yang lain dapat bergerak sesuai dengan fungsinya. Hingga sampai kepada kesimpulan bahwa bila otak tersebut rusak dan mati maka roh tidak mampu membuat perintah kepada otak sehingga roh akan diambil dari jasad oleh malaikat maut, yang bahasan ini bukanlah area untuk dibahas di sini. Aktivitas otak yang mati itulah yang dijadikan para ahli kedokteran dalam menentukan waktu serta tanda-tanda kematian seseorang. Hingga saat itulah batas akhir kehidupan manusia dapat didefinisikan.
Proses yang dibahas di atas bukanlah sesuatu yang mutlak. Hal ini disebabkan prasangka-prasangka yang dominan dalam mendefinisikan temuan tersebut. Kajian ini pun tidak dapat secara detail menjelaskan bagaimana menentukan kematian seseorang hingga teknisnya. Namun setidaknya, kode etik (akhlak) dapat diberlakukan secara legal di sini dengan melihat hasil dari kajian tersebut sebab proses kematian seseorang bukanlah sesuatu yang hanya menyangkut matinya materi (otak) melainkan juga hilangnya materi abstrak (roh) yang hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT. Wallahua’lam.
Senin, 23 Agustus 2010
Tinggal Sedikit Lagi. Insya Allah.
Lama. Bukanlah waktu yang singkat. 3 tahun saya telah "membeli" waktu untuk belajar dalam salah satu cabang kecil dari kehidupan saya, kehidupan kampus. Sejak dari awal yang tidak mengira akan hidup dalam kondisi dan suasana yang seperti ini, sampai saat ini yang juga masih tidak mengira masih seberuntung hari ini. Ya, hari ini saya masih diberikan hidup. Hidupnya pun tidak dalam kekurangan. Tidak pula dalam keadaan sakit-sakitan hingga tidak mampu bangun dan bergerak. Bahkan masih dapat kuliah dan melanjutkan kehidupannya di sana. Maka sungguh apatah hal yang sanggup saya bayar untuk pemberian itu semua?Satu-persatu saya melihat saudara kandung yang lebih tua dari saya berpakaian rapi, semua serba hitam dengan topi lebar yang melekat di kepalanya. Satu-persatu, mereka menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya maupun guru-gurunya. Upacara wisuda pun terkadang menjadi puncak kebahagiaan orang tua saat beliau melihat anaknya berdiri di depan. Bahagia karena tidak semua orang tua mampu memberikan hal yang sama kepada anaknya. Bahagia pula karena anaknya pun mampu menjawab setidaknya sedikit kekhawatiran sang orang tua akan masa depan anaknya yang dibangga-banggakannya itu. Maka wajar jika hal ini melekat di benak saya saat ini. Ya, suatu saat saya juga ingin berada dalam posisi sang anak yang mampu menunjukkan baktinya, setidaknya dengan seperti yang telah diceritakan di atas.
Sekarang, insya Allah "hanya" tinggal setahun lagi saya kan menuju ke sana. Melihat ke belakang kembali bukanlah sesuatu yang bijak. Karna sungguh, ada cita-cita yang ingin saya kejar. Setidaknya dalam waktu yang dekat ini, maupun dalam kurun waktu yang jauh ke depan. Sudah terbayang. Tergambar. Tinggal prosesnya lah yang harus ditekuni. Daya berdaya yang dipertajam. Kesabaran yang diasah. Ya Rabb, semoga Engkau ridho.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Berkorban, Bukan Menjadi Korban.

Pengorbanan. Menilik ke dalam beberapa pengalaman yang klasik. Pernahkah kita menyisihkan sebagian uang kita untuk memberikan satu bungkus saja makanan berbuka puasa untuk orang lain? Namun saat kita diajak untuk ikut acara buka bareng, belasan bahkan puluhan ribu kita keluarkan. Tidak. Ada yang lebih sederhana. Pernahkah kita memindahkan puntung rokok (masih hidup) yang dibuang di tengah jalan ke tempat yang semestinya? Padahal melihat teman yang merokok saja kita masih enggan untuk berkata "tidak suka asap rokok!".
Rasulullah pernah bersabda bahwasanya memindahkan duri di jalan saja merupakan selemah-lemahnya iman. Coba kita bayangkan bila hal yang di atas kita masih enggan. Kasihan iman kita. Ia renta, hanya sekedar di mulut saja. Kosong. Bila begitu, entah kata-kata apa yang harus dirangkai untuk mendorong diri kita sendiri untuk menghadiahi waktu ini dengan membaca Al-Quran.
Sahabat. Kita semua tahu bahwa pengorbanan itu bukanlah sesuatu yang sederhana dalam perlakuannya. Masih butuh komponen dasar di dalamnya. Tanggung jawab, keberanian, kesabaran. Setidaknya itu yang dibutuhkan. Karna itu ada satu hal yang harus dipegang. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri. Ulama saja mengistilahkan dengan, "manusia kerdil". Apakah yang disebut pahlawan itu adalah kumpulan manusia-manusia berjiwa kerdil?
(Self-Evaluating..)
Kemilau Diri

Kemilau. Suatu istilah yang akarnya dari silau, menyilaukan. Bersinar terang. Banyak orang yang ingin menjadi orang yang paling terang, paling bersinar, paling memesona. Itu fitrah diri. Menjadi idola, tokoh yang disegani. Itu bagian dari kemilaunya.
Hanya saja, banyak yang belum sadar bahwa lilin itu juga terang. Itu bersinar. Namun ternyata ia juga tidak sekedar silau. Karna ia menerangi. Ya, kemilaunya menerangi yang lain. Walapun ironisnya sang lilin pun akan menjemput waktu akhir kemilaunya, tetapi siapa yang menyangkal bahwa lama nya ia hidup menjadi sesuatu yang sangat diharap-harapkan.
Belajarlah dari sana. Kita, manusia, pasti ada potensi di dalam diri. Setidaknya ada 3 potensi di sana. Tak salah jika kita mampu mengeluarkan segenap potensi yang ada. Agar kita semakin berkilau mantap dan sempurna. Namun waktu kita bukan untuk dihabiskan untuk itu. Karna sang lilin pun tahu, tugas ia bukan sekedar nyala nya api di mahkotanya melainkan jua untuk apa api itu dapat ia gunakan agar bermanfaat bagi sekitarnya. Sang lilin hidup bukan untuk dirinya sendiri.
Senin, 16 Agustus 2010
Merdeka!
Kemerdekaan. Makna nya luas. Sangat luas sebenarnya. Maka wajar jika banyak hal yang dapat ditarik dari kata itu. Secara konotatif ataupun denotatif. Secara gamblang, maupun tersirat. Hanya saja, masih terasa bingung. Kemerdekaan ini masih sering diinterpretasikan, "kebebasan seluas-luasnya". Lucu. Padahal tubuh kita saja butuh aturan untuk hidup normal. Regulasi gen yang ada di tiap sel, bila tidak ada aturan maka bisa berkembang menjadi keganasan. Sel-sel imun, bila tidak aturan yang jelas, bisa menjadi penyakit autoimmune. Aliran darah, bila tidak ada autoregulasi tekanan di otak, bisa berkembang menjadi stroke. Jelas. Bebas itu bukan tanpa aturan. Bebas itu berbatas aturan. Dari siapa aturan itu? Kita semua sudah seharusnya bisa menjawab itu. Bila sulit, tanyakan pada hati kecil kita.
Ada sisi lain yang bisa ditarik pula dari kata kemerdekaan. Sering terdengar teriakan "merdeka!" karna merasa kita belum merdeka. Kita merasa masih terjajah. Wajar. Itu semangat bergejolak. Hanya saja satu hal yang mungkin harus diperhatikan. Merdeka itu bukan sekadar pemberian! Tidak akan ada perubahan yang lebih baik itu terjadi tanpa kita sendiri yang melakukannya. Kita tidak bisa terus-menerus mengharapkan mukjizat terjadi tanpa ada usaha lebih. Ya, usaha lebih. Berdasarkan rumus fisika saja, usaha itu harus ada perpindahan. Itu berarti ada yang bergerak di sana.
Semua yang tertulis di atas hanyalah sekelumit alur yang ada di otak saya saat ini. Mampu kah hal itu terintegrasi menjadi bagian dari amal saya? Bismillah..
Ada sisi lain yang bisa ditarik pula dari kata kemerdekaan. Sering terdengar teriakan "merdeka!" karna merasa kita belum merdeka. Kita merasa masih terjajah. Wajar. Itu semangat bergejolak. Hanya saja satu hal yang mungkin harus diperhatikan. Merdeka itu bukan sekadar pemberian! Tidak akan ada perubahan yang lebih baik itu terjadi tanpa kita sendiri yang melakukannya. Kita tidak bisa terus-menerus mengharapkan mukjizat terjadi tanpa ada usaha lebih. Ya, usaha lebih. Berdasarkan rumus fisika saja, usaha itu harus ada perpindahan. Itu berarti ada yang bergerak di sana.
Semua yang tertulis di atas hanyalah sekelumit alur yang ada di otak saya saat ini. Mampu kah hal itu terintegrasi menjadi bagian dari amal saya? Bismillah..
Senin, 21 Juni 2010
Putus nyambung? Nyambung terus kok..

Bismillah..
Pernahkah Anda melihat ada dua orang sahabat muslim yang sangat akrab, bahkan tidak bertemu itu rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat dicari-cari? Saat salah satu di antara nya dihina, seorang lainnya terdepan membelanya. Bila ia terusik dan dizholimi, sahabatnya lah yang pertama bergerak melindungi. Namun ternyata, bisa jadi dalam suatu kondisi (yang tiba-tiba maupun tidak) mereka menjadi saling berjauhan dan memusuhi satu sama lainnya layaknya cahaya dan kegelapan yang saling meniadai? Bertolak belakang dengan apa yang mereka alami sebelumnya. Ada apakah di sana? Ada "duri" di antara mereka.

Sungguh, persaudaraan di antara muslim itu adalah anugrah nikmat yang sangat besar. Ini ditegaskan oleh Allah SWT bahwa walaupun kita membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi niscaya kita takkan mampu mempersatukan hati-hati umat muslim yang ada di setiap sudut dunia ini. Hanya karna nikmat Allah SWT lah, saya, Anda, teman-teman muslim Anda semua menjadi bersaudara. Maka wajar jika sebanyak 30-an kali kita di tegur oleh Allah SWT dalam pendustaan manusia terhadap berbagai nikmat-Nya.
Sayangnya, sering kita lupa mensyukuri nikmat persaudaraan ini. jika saat ini kita melihat banyak perpecahan dan kesenggangan yang terjadi di antara umat muslim, pastilah itu karna ulah manusia itu sendiri. Merekalah yang menebar "duri-duri" ini. Sengaja maupun tidak.
Salah satu duri terbanyak yang memliki proporsi besar di dalamnya adalah ketidaksantunan dalam berbicara. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita bahwa keselamatan seseorang terletak dalam menjaga lidahnya. Benar bahwa lisan ini memang dibentuk oleh organ panca indra manusia yang bentuk dan ukurannya relatif kecil, namun Anda semua pasti sadar bahwa efeknya tidak sekecil itu. Ingatkah wasiat Lukman dalam didikan anaknya untuk melunakkan suara dalam berbicara? Dan bukankah Rasulullah juga telah mengingatkan bahwa tidak ada kaum yang sesat setelah mendapat petunjuk dari-Nya kecuali karena mereka suka saling berbantah-bantahan? Atau lupakah manusia bahwa sikap sombong bisa meregangkan yang dekat menjadi berbalik arah?
Sudah cukup banyak kesantunan yang islam memang ajarkan -Maha Suci Allah yang meneguhkan kita disini-, khususnya dalam berbicara. Maka layak bahwa umat muslim sesungguhnya adalah umat yang terbaik. Mulai dari sekarang, saatnya kita yang membuktikan itu, pembuktian bahwa persaudaraan ini bukanlah ikatan yang mudah diurai. Bisa jadi, itulah mengapa saudara-saudara saya sering menyebut, "Berukhuwwah Menjawab Tantangan!"
Langganan:
Postingan (Atom)