Selasa, 23 Maret 2010

Adil,,itu lebih baik..!

Bismillah..

Pertanyaan sederhana terlintas di kepala saya, "Kenapa orang-orang masih banyak merasa gak aman di negeri ini ya?..Terorisme? Korupsi? Kejahatan kriminal dengan modus FB? Ah..Nggak usah jauh-jauh..Bahkan sekedar menaruh helm motor saat memarkir motor pun saya masih was-was.."

Teringat rasanya..Suatu hari Umar bin Abdul Aziz pernah diusulkan untuk membangun pagar yang tinggi demi keamanan oleh rakyatnya..Beliau menjawab :
“Bangunlah keadilan kau akan merasa aman. Sebab dengan bersikap demikian, seorang pemimpin telah memberikan hak-hak rakyatnya secara benar dan proporsional. Bila rakyat mendapatkan haknya maka otomatis kejahatan tidak ada. Bila kejahatan tidak ada maka akan tercapai rasa aman.”

Teringat rasanya jua pada riwayat kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab..Tak pernah beliau merasakan nyenyak dalam tidurnya..Tidur siangnya bagaikan mengkhianati rakyatnya, maka malamnya bagaikan mengkhianati dirinya sendiri..
”Lain nimtunnahaar dhayya’tur ra’iyyah, wa lain nimtullail dhayya’tu nafsii (jika aku tidur di siang hari aku telah mengkhianati rakyatku, dan jika aku tidur di malam hari, aku telah mengkhianati diriku sendiri”.

Siang malam beliau selalu bersama rakyatnya..Paginya selalu ia sempatkan untuk membantu para janda berbelanja di pasar, Malamnya ia sempatkan pula untuk membantu para jompo untuk menyediakan makanan untuk mereka..
”Umar, adalta fanimta (Umar, engkau telah berbuat adil, maka engkau enak tidur di mana-mana”). begitulah ungkapan salah seorang sahabat kepada beliau..

Adil lawan kata dari zhalim..Saat seorang tidak berbuat adil, maka logikanya ia telah berbuat zhalim..Pelaku kezhaliman menjerumuskannya pada lumpur dosa..Maka semakin jauh lah ia dari Allah SWT..Maka takkan bertakwa orang-orang yang jauh dari-Nya..
”I’diluu huwa aqrabu littaqwa (berbuatlah adil sesungguhnya ia lebih dekat kepada ketakwaan”). Al-Maidah:8

Saat sejarah islam bercerita panjang tentang keadilan, maka realitas kadang berkata lain..Kezhaliman dibuatkan banyak alibi..Kedustaan dibungkus dengan alasan-alasan kemanusiaan..Dikemanakan komitmen itu? Komitmen untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh? Apakah nilai-nilai keadilan itu hanya dibuat terduduk diam di pojok-pojok masjid sedangkan di pasar-pasar, di sekolah, di kampus, di jalan, ia seolah tidak memiliki nyawa? Sungguh islam itu fitrah..Maka berislam itu adalah berbuat adil..Saat semua merasa diperlakukan adil, rasa aman menjadi menjadi bonus yang memang dicita-citakan sebagian kita..Insya Allah.

Wallahua'lam

Jumat, 12 Maret 2010

Bersabarlah, Karena UJIAN itu Gak Sepanjang Waktu!..:)

Bismillah..

Menarik..
Setiap punggawa dakwah memiliki cerita yang berbeda. Mengapa? Karena Allah menguji hambanya sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing..

"Ada seorang ikhwan. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. "Begitu harus berangkat (baca: berdakwah) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas. Kala itu jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da’wati" : Isteriku atau da’wahku ?".

Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.."


Lain lagi dengan cerita berikut.
"Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan halaqah. Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?". Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan ia pun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis ikhwan tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah, ta'lim atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh saudara-saudara berwajah jernih berhati ikhlas?.."

Dalam surat Al A'raf ayat 163, "Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka", secara langsung Allah memerintahkan kita dalam sikap amar ma'ruf nahi munkar. Namun ada kemiripan konten ayat ini dengan kisah di atas. Ini adalah hakikat ujian..

Sadar atau tidak, Allah telah menguji hamba-Nya mulai dari titik yang terlemah.
"Demikian kami uji mereka karena kefasikan mereka.". Ini kuncinya. Saat mereka bermalas-malasan beribadah pada hari Sabtu, ternyata ikan-ikan banyak berdatangan..Saat seorang ikhwan (saudara laki-laki) tadi telah mengazamkan diri untuk berangkat liqo, saat itu pula istri dan mertua nya berturut-turut seolah "menyibukkan" nya..Saat kita tidak pandai dalam mengelola waktu, bisa jadi kita diuji dalam waktu senggang..

Padahal, ada satu hal pula yang mungkin sering terlupakan. Waktu ujian tidak pernah lebih lama dari waktu belajar kita. Namun jarang kita bersabar terhadap ujian itu, seakan ujian itu sepanjang waktu lamanya. Titik terlemah itu hanya muncul sewaktu, tidak terus-menerus. Pernahkah kita menyadari kalau tidak ada sekolah yang mengadakan masa ujian yang lebih lama dari masa kegiatan belajar-mengajarnya?..

Mulai dari sekarang, cermatilah titik terlemah kita.."Pertarungan" itu bisa jadi hanya muncul satu dua kali, selanjutnya adalah kenikmatan..Meski tidak melupakan bahwa kenikmatan juga merupakan bentuk ujian..
"Sesungguhnya Kesabaran itu ada pada benturan yang pertama.."

Wallahualam

Jumat, 26 Februari 2010

Cerita Sang Pahlawan

Bismillah...

Sahabat-sahabiyah...
Ada sebuah kumpulan cerita. Cerita yang satu ini sangat berbeda dengan cerita-cerita yang lainnya. Cerita ini selalu mengisahkan pribadi yang tidak pernah bersikap antagonistik bagi umatnya. Bukan layaknya cerita pendek ataupun novel yang hanya bertemakan cinta yang jauh dari hakiki nya. Bukan pula cerita action ataupun cerita heroik yang hanya mempertontonkan kegagahan sang pahlawan. Cerita ini dahsyat, sedahsyat yang selalu diceritakannya. Cerita ini juga sederhana, sesederhana sikap yang selalu beliau perlihatkan. Cerita ini bermakna, sehikmah apa yang selalu dibawanya...

Dialah pribadi paripurna yang Allah ciptakan, Rasulullah SAW. Dialah yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Dialah tokoh peradaban umat terbaik di dunia.

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." Q.S Ali Imran :110

Sekali lagi, cerita ini berbeda dengan cerita-cerita lainnya. Saat kita membaca cerita ini, kita dituntut untuk memahami dan mempelajari apa-apa yang ada di dalamnya, bukan hanya sekedar tahu. Mengapa? Karena bisa jadi, kesuksesan dan kejayaan yang terjadi dalam cerita tersebut bisa kita ulang kembali masa kini. Model kepemimpinan umat yang ada di dalamnya, dapat pula kita contoh dan terapkan. Kepribadian paripurna nya pun, sungguh, dapat kita teladani. Sehingga tidak akan ada lagi figur-figur keliru yang kita ikuti.

"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." Q.S Al Ahzab: 21

Masih belumkah kita mulai mempelajari cerita itu? Masih ragu kah kita bahwa bisa jadi cerita tersebut menjadi solusi kehidupan kita masa kini? Atau memang belum resah kah kita dengan masalah-masalah umat ini? Atau bahkan, masih banggakah kita dengan figur-figur kebanyakan umat saat ini?


Wallahualam

Kamis, 25 Februari 2010

Sa'ad bin Abi Waqash

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da'i, MA (Lembar Kajian Syakhshiyyah Islamiyah)

Sosok Sa'ad dikenal dengan julukan "Singa Yang Suka Menyembunyikan Kukunya". Dikatakan "Suka Menyembunyikan Kukunya" karena memang sikap dan karakter sahabat Rasul yang satu ini orangnya sangat rendah hatl, tidak sombong. Julukan "Singa" digambarkan sebagai orang yang gagah berani dan menakutkan. Sifat "Singa" Sa'ad akan muncul manakala hak-hak Allah mulai diabaikan, dilecehkan atau diinjak-injak.

Kisah sahabat yang satu ini muncul ketika umat Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatthab sedang mengalami kekalahan dalam perang menghadapi pasukan orang-orang musyrikin, konon saat itu umat Islam yang gugur sebagai syuhada sebanyak 4 ribu orang. Menyikapi situasi dan kondisi yang demikian, di hadapan umat, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab menyatakan siap akan berangkat sebagai panglima perang dan telah siap pula meninggalkan Medinah serta beliau pun sudah melimpahkan sementara kepemimpinan kekhalifahan kepada Ali bin Abi Thalib ra. Tapi, belum lagi Umar meninggalkan kota Medinah, beliau sudah diminta oleh para sahabat untuk kembali karena para sahabat di samping mengkhawatirkan atas keselamatannya, beliau pun masih sangat dibutuhkan menjadi khalifah. Yang paling kuat meminta beliau kembali adalah Abdurrahman bin Aufra.

Menyikapi hal tersebut, Umar tidak begitu saja mau menerima usulan dari sebagian sahabat dan beliau pun meminta agar hal ini diputuskan dalam sebuah musyawarah. Hal ini menjadi satu pelajaran yang berharga bagi kita, bahwa di dalam Islam kita diperintahkan bermusyawarah untuk mufakat dalam berbagai bidang kehidupan. Allah SWT berfirman: "Bermusyawarahlah kalian dalam menetapkan suatu perkara" (QS. Ali Imran, 3:159). Juga dalam firman-Nya: "Dan perkara mereka itu harus diselesaikan secara musyawarah di antara mereka" (QS. Asy Syuuraa, 42:38). Dalam proses musyawarah ini tentu semua akan melihat masalah itu sesuai dengan aturan Allah untuk kemaslahatan Islam dan ummat Islam. Hal ini yang membedakan dengan sistim demokrasi yang mengambil keputusan dengan suara terbanyak, tapi dalam Islam yang diambil adalah yang benar walaupun jumlah suara sedikit.

Ternyata hasil musyawarah para sahabat sepakat kepada usulan Abdurrahman bin Auf bahwa hendaknya niat Umar untuk memimpin langsung perang dibatalkan demi kelancaran pelaksanaan kekhalifahan. Umar pun menyepakatinya. Lalu siapa yang akan menjadi panglima perang kalau bukan saya, tanya Umar. Maka para sahabat pun merenung hingga kemudian Abdurrahman bin Auf
memberanikan diri mengangkat tangannya untuk sekadar bisa menunjukkan siapa sebagai calon panglima penggantinya. Kata Abdurrahman: "Saya sangat yakin betul dengan yang bersangkutan yaitu Sa'ad bin Malik az-Zuhri (Sa'ad bin Abi Waqqash). Maka sepakatlah para sahabat begitu nama Sa'ad dimunculkan sebagai panglima perang, karena para sahabat memandang bahwa beliaulah yang paling tepat untuk memikul amanah yang berat ini.

Siapa Sa'ad dan apa latar belakang para sahabat berani mengusulkan beliau menjadi panglima perang? Sahabat yang mendapat julukan "Singa Yang Suka Menyembunyikan Kukunya" ini adalah seorang yang masuk Islam dalam usia yang sangat muda, 17 tahun. Para ahli sejarah mengatakan bahwa dialah orang ketiga yang masuk Islam, namun saat itu masih secara diam-diam. Banyak keistimewaan dari sahabat Rasul yang satu ini hingga para sahabat berani mengusulkan menjadi panglima perang. Dua keistimewaan yang sangat menonjol, pertama, dalam perang beliau sering disebut "Singa" karena dia dikenal pemberani, selalu berada di garda terdepan dalam kancah peperangan. Di Perang Badar, dia menjadi orang yang paling pertama maju di paling depan dan paling pertama melemparkan panahnya dan paling pertama pula dia terkena panah. Beliau terkenal dengan akurasi memanahnya sehinga nyaris panahnya tidak pernah meleset, selalu mengenai sasaran. Keistimewaan yang kedua, dia dikenal oleh para sahabat menjadi orang satu-satunya yang pernah dijaminkan oleh Rasul atas nama ayah dan ibunya. Dalam Perang Uhud, Rasul mengatakan: "Lemparkan panahmu hai Sa'ad, jaminanmu ayah dan ibuku". Dan berkata pula Ali bin Abi Thalib: "Saya belum pernah sekalipun mendengar Rasul menjaminkan kedua orangtuanya kecuali kepada Sa'ad", saya mendengar itu pada saat Perang Uhud.

Selain dua keistimewaan yang dimiliki, Sa'ad juga memiliki dua senjata yang sangat luar biasa. Pertama, sasaran panahnya yang nyaris tidak pernah meleset. Kedua, doanya yang selalu dikabul oleh Allah. Dua senjata ini berkaitan dengan doa Rasul khusus untuk Sa'ad, di mana dalam sebuah hadits diriwayatkan Rasul pernah berdoa memohon kepada Allah SWT: "Ya Allah, tepatkanlah bidikan panah Sa'ad dan kabulkanlah segala doanya". Maka para sahabat pun yakin bahwa doa Sa'ad selalu makbul.

Dalam kisah yang diriwayatkan oleh 'Amir bin Sa'ad, di mana dia berkata sesuatu ketika Sa'ad melihat seorang laki-laki mencaci maki Ali, Thalhah dan Zubair. Melihat kejadian tersebut Sa'ad berupaya mengingatkan yang bersangkutan untuk menghentikan caciannya, tetapi tetap saja yang bersangkutan tidak mau berhenti mencaci. Maka Sa'ad berkata: "Kalau begitu saya akan berdoa kepada Allah untukmu". Jawab laki-laki: "Saya melihat engkau mulai mengancam saya, seolah-olah engkau seorang nabi". Maka Sa'ad pun kemudian pergi meninggalkan yang bersangkutan, beliau mengambil air wudhu lalu shalat sunnah dua rakaat, Usai shalat, beliau mengulurkan kedua tangannnya sambil berdoa: Ya Allah sesunguhnya Engkau Maha tahu bahwa laki-laki ini telah mencaci maki orang-orang shaleh yang Engkau ketahui keshalehannya, maka berilah dia pelajaran jika itu akan baik baginya dan berikanlah tanda bahwa dia sudah mendapat pelajaran dari-Mu". Selesai beliau berdoa tidak berapa lama kemudian tiba-tiba keluar dari sebuah tempat seekor unta liar yang kelihatannya sedang mencari sesuatu, lalu ditabraknya laki-laki tersebut sampai dia jatuh di kaki unta itu dan si unta tidak pernah berhenti kecuali menginjak dirinya sampai akhirnya matilah laki-laki itu seketika!"

Sebuah pelajaran berharga dapat dipetik hikmahnya bagi kita tentang doa Rasul terhadap Sa'ad, apakah cukup dengan doa Nabi saja seseorang akan menjadi orang yang seperti Sa'ad yang didoakan oleh Rasul? Tentu tidak! Karena Rasul pun mendoakan pamannya, Abu Thalib untuk mendapat hidayah ternyata hingga akhir hayatnya tidak dapat juga hidayah. Perlu digarisbawahi bahwa antara doa dengan usaha itu harus selalu menyatu. Oleh karena keshalehan Sa'ad maka bernilailah doa Rasul. Dan, yakinilah bahwa sebenarnya doa setiap orang yang shaleh pasti dikabul oleh Allah (QS. Al Baqarah, 2:186). Yang menjadikan doa Sa'ad makbul karena jangankan yang haram yang subhat pun beliau tidak mau memakan dan meminumnya.

Jika kita cermati, erat sekali kaitan doa dengan makan minum yang haram. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: "Sesunggguhnya Allah Maha baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik. Allah menyuruh orang mu'min sebagaimana Dia menyuruh kepada para rasul, seperti firman-Nya dalam suratAI Mu'minun ayat 51: "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh". Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 172: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik yang Kami rezekikan kepada kalian dan bersyukurlah". Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: "Ya Rabbku, Ya Rabbku", sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya?"(HR. Muslim).

Sa'ad bin Abi Waqqash adalah orang yang sangat kaya, ketika Haji Wada' beliau sempat sakit dan dijenguk Rasulullah. Saat dijenguk beliau berkata kepada Rasul: Ya Rasulullah, saya dikarunia Allah banyak harta, dan tidak ada ahli warisku kecuali seorang anak wanita. Bolehkah saya bersedekah dengan dua pertiga harta saya? Nabi berkata: Tidak! Maka Sa'ad berkata: Bagaimana kalau setengahnya? Jawab Nabi: Tidak! Sa'ad berkata lagi: Bagaimana kalau sepertiganya? "Silakan" kata Rasul, sepertiga itu pun sudah cukup banyak. Jangan biarkan keluargamu dalam kondisi miskin dan meminta-minta kepada orang lain. Dan setiap nafkah yang kamu keluarkan dengan mengharap keridhaan Allah, pastilah akan diberi ganjaran bahkan walau sesuap makanan yang anda taruh di mulut istrimu" (HR. Bukhari)

Sa'ad juga terkenal orang yang sangat takut kepada Allah. Beliau sering menangis jika mendengar khutbah Rasul. Suatu saat Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabat di sebuah majelis, tiba-tiba Rasul mengatakan: "Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga". Tak lama kemudian, muncullah Sa'ad bin Abi Waqqash. Di antara sahabat yang penasaran ingin sekali mengetahui tentang ibadah apa saja yang dilakukan Sa'ad sehingga menjadi penduduk syurga adalah Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, hingga akhirnya Abdullah memutuskan untuk bermalam di rumah Sa'ad. Selama tiga malam di rumah Sa'ad, ternyata Abdullah tidak melihat ibadah khusus yang dilakukan Sa'ad, yang pada akhirnya Abdullah memberanikan diri mengatakan kepada Sa'ad seperti yang dikatakan Rasul. Sa'ad berkata: "Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorang pun di antara kaum muslimin!"

Sebuah kisah yang tak kalah menariknya untuk kita ambil hikmahnya kisah masuknya Sa'ad dalam pelukan Islam adalah tatkala Ibundanya gagal total menghalangi putranya untuk memeluk Agama Allah. Langkah terakhir ibundanya untuk dapat meluluhkan hati putranya untuk mau kembali ke ajaran nenek moyangnya dengan jalan mogok makan dan minum hingga berakibat dirinya dalam kondisi kritis. Saat ibundanya dalam kondisi kritis, dipanggillah Sa'ad untuk melihat kondisi ibundanya. Keteguhan keimanan Saad kepada Allah dan Rasul-Nya tak pernah lentur dan luntur, lalu didekatkannya wajahnya ke wajah ibunya dan dikatakan dengan suara keras: "Demi Allah, ketahuilah wahai bunda, seandainya bunda memiliki seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah aku akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga! Maka terserah kepada ibu, apakah ibu akan makan atau tidak! Maka hal ini menjadi asbabun nuzul (turunnya ayat 15 QS. Luqman): "Dan apabila keduanya memaksamu supaya menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada bagimu ilmu tentang itu, maka Jangan engkau patuhi mereka dan pergaulilah mereka dengan baik di dunia".

Betapa panjang lebar jika kita mau mengungkap tuntas kisah hidup para sahabat Rasul tak terkecuali pula Sa'ad bin Abi Waqqash. Akhir kisahnya, saat-saat menjelang beliau menghadap ke haribaan-Nya pada usia lebih dari 80 tahun, tatkala menjelang ajalnya, beliau memberi isyarat ke arah peti simpanannya yang berisi sehelai kain yang telah lapuk dan usang. Diingatkanlah keluarganya untuk mengkafani mayatnya nanti dengan kain tersebut sambil beliau mengatakan: "Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu Perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini".

Berpulanglah beliau memenuhi panggilan-Nya dengan penuh rahmat dan ampunan-Nya untuk menerima janji Allah lewat Rasul-Nya sebagai penduduk Syurga.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Jumat, 05 Februari 2010

" Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi

Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran , siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya

Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi, Robbi...

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini, darah ini sepenuh ridho Ilahi

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Dan mengoyak, menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi, Robbi...

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini , darah ini sepenuh ridho Ilahi
Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah padam
Tuk arungi dakwah ini jalan panjang

Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi, Robbi...
"

Jumat, 22 Januari 2010

"Barang" Mukmin yang Hilang...


Bismillah…
Ada hal yang pernah (pula) saya dapat di mentoring…(promosi mentoring...^0^)

Teman2 tahu IPM (Index Pembangunan Manusia)? Ya, itu adalah salah satu indikator yang saat ini menjadi rujukan oleh negara-negara di dunia untuk menentukan kemajuan SDM negaranya. Ada 3 aspek yg diukur disana: kesehatan, pendidikan, daya pendapatan (ekonomi). Secara logika, indikator ini memang selintas dapat diterima. Dari sisi kesehatan dan pendidikan misalnya, statusnya yang baik mungkin akan mendukung daya produktif masyarakatnya itu sendiri.

Namun, mungkin memang tidak ada yang sempurna. Dapat kita perhatikan bahwa dengan tinggi nya status kesehatan, majunya teknologi pendidikan, dan sehatnya perekonomian suatu negara, tidak ada negara yang tidak terdapat konflik disana. Contoh ekstreme nya adalah krisis ekonomi yang baru-baru ini banyak melanda negara-negara yang banyak diantara kita anggap "maju". Jadi, adakah yang salah dari indikator tersebut?Ada. Mereka belum “lengkap”.

Islam mengajarkan orang mukmin untuk mencari “barang” nya yang hilang, hikmah, karena ia lebih berhak dengannya. Dalam surat Al Imron ayat 190-191 pun dijelaskan bahwa Allah meminta hamba-Nya memikirkan semua penciptaan-Nya dalam kondisi apapun, menggunakan aktivitas hati dan akalnya, untuk menemukan hikmah itu. Mungkin itulah mengapa islam bersifat Universal.

Terkait dengan IPM itu, rasulullah SAW pun sudah pernah mengajarkannya. Dalam doa keselamatan kita selalu meminta pada Allah:
1. Diselamatkan agamanya (salaamatan fiddiin)
2. Disehatkan jasmaninya = kesehatan
3. Bertambahnya ilmu = pendidikan
4. Berkahnya rizki = ekonomi
5. Taubatnya sebelum maut (taubatan qobla almaut)…

Ada 2 hal yang memang (ternyata) terabaikan untuk dilengkapkan dalam IPM itu sendiri, Selamatnya agama dan taubatnya sebelum maut. Mungkin inilah yg membuat negara maju sekalipun tidak akan pernah terlepas dari krisis. Saat suatu negara dikatakan berpendidikan, sudahkah ilmunya ia tambah untuk kebaikan? Saat suatu negara dikatakan pula memiliki perekonomian yang kuat, berkahkah ia?

Maka ada satu hal yang (memang) harus dibangun dari awal, penyelematan agama. Saat akidahnya sudah murni, sehatlah hatinya. Saat hati sehat, sehatlah pikiran dan raganya. Mampulah ia untuk menambah ilmu dari-Nya. Maka takutlah ia mengambil sesuatu yang tidak berkah. Saat itu terjadi, bertaubatlah ia segera. Saat itulah, seseorang baru dapat dikatakan MAJU.

Jadi, apakah mentoring ini hanya mengajarkan bagaimana membaguskan membaca al quran saja?Saya rasa tidak. :)
Wallahualam.

Selasa, 12 Januari 2010

Ihsan...Do the best of you!

Bismillah...

hanya mencoba mengingat-ingat materi mentoring yang pernah saya berikan kepada adik-adik mentorku dulu...:)
tentang sebuah istilah yang memang asal katanya berasal dari bahasa arab, "ihsan", yang artinya berbuat baik. Sebuah kata kerja yang berulang kali Allah katakan dalam Al Qur'an.

“…Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

"Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)

“…Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (al-Qashash:77)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”(an-Nahl: 90)

Bahkan dalam sebuah hadits, saat malaikat Jibril mendatangi rasulullah dan bertanya kepada beliau tentang islam, iman, dan IHSAN.

“Apa itu ihsan?", rasul menjawab, "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Ihsan adalah puncak prestasi ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Mendapatkan posisi yang paling terhormat dari-Nya.

Ihsan itu sendiri dapat dianalogikan sebagai suatu komponen dalam tegaknya suatu bangunan. Bersama dengan iman, sebagai "pondasi" nya, islam sebagai "tiang penyokong" nya, ihsan dapat dikiaskan sebagai "atap" dalam bangunan tersebut. Sebuah atap yang kiranya dapat melindungi semua komponen-komponen yang ada di bawahnya.

Begitu pula dengan makna ihsan sebenarnya, karena ia menjadi pemelihara amal-amal kita agar tetap berkualitas dan kontinyu, layaknya atap yang menjaga agar dinding dan seisinya itu tetap utuh terjaga. Ya, terjaga. Karena ihsan mengingatkan kita pula bahwa segala amal kita ada yang "melihat".

Berkaca pada diri kita, sudahkah belajar-belajar kita, kerja-kerja kita, amalan-amalan ibadah kita, bahkan niat-niat kita, adalah yang terbaik dari kita? Atau apakah kita masih lebih sering mengeluhkan pada keterbatasan kita sehingga menjadi alasan untuk tidak memberikan yang terbaik?

Manusia hidup pada keterbatasan. Tetapi bukankah selalu ada capaian maksimum dalam keterbatasan kita?

Allahua'lam