Rabu, 23 November 2011

Cerita Kecil dari Santolo

Siang itu, hampir penuh dengan keringat. Berlalu-lalang orang-orang di depanku. Sambil membawa secarik kertas kecil, mereka juga sedang menunggu gilirannya masing-masing. Ada nenek-nenek tua dengan membawa serta anak dan cucunya. Ada pula bapak-bapak yang terlihat amat sulit berjalan tanpa dipapah. Tak jarang tangisan anak kecil mengiringi riuh suasana kala itu. Begitu ramainya hingga beberapa warga di sana ikut membantu untuk mengkondisikan ketertiban balai pengobatan yang digelar oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dari universitas yang berbeda tersebut.

Kuakui sangat lelah rasanya. Penatnya begitu merasuk ke kepala. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku keluar dari ruangan sambil melepaskan serat-serat ototku yang sedang berketemukan. Kujumpai seorang ibu menggendong anaknya seusia 1 tahun menurutku. Lalu aku bertanya basa-basi, "Ibu, ini anaknya berapa tahun usianya?". Ibu itu menjawab, "2,5 tahun cep." Aku sedikit tergelak. Anak dengan usia itu belum berjalan sendiri, dan terlihat pendiam. Kemudian kutanya kembali, "Ibu sudah diperiksa di dalam?" dan sang ibu menjawab, "Oh. Belum cep. Da ini anak saya yang mau diperiksa." Kutanya balik, "Memangnya kenapa Bu dengan anaknya?" Ibu itu menjawab lagi, "Iya cep, ini teh anak saya kan udah 2 tahun lebih, tapi ya begini kondisinya. Itu coba lihat cep, ada yang nonjol kan di punggung nya?" Sambil memperhatikan punggung yang ditunjuk, aku mengiyakan. Lalu Ibu tersebut bertanya balik,"Ibu tuh mau tahu aja sebenarnya, klo seperti ini tuh bisa disembuhkan gak ya?".

Aku henyak sejenak.

Diriku memiliki diagnosis banding tersendiri pada anak ini. Spina bifida dengan paralysis nervus spinalis segmen lumbal. Setidaknya hal itu yang menjadi berat untuk mengatakan faktanya kepada sang ibu bahwa anaknya memiliki kelainan bawaan cukup berat yang membuatnya tidak dapat berjalan. Apalagi jika harus katakan juga bahwa kemungkinan anak pada kehamilan berikutnya memiliki resiko terjadinya hal serupa. Dan jikalau dioperasi kelak, sungguh tidaklah mudah untuk menjangkaunya. Benar-benar tak tahu aku harus berkata apa.

Sungguh beginilah kejiwaan sosialku diketuk. Ibu tersebut berasal dari daerah dengan sosioekonomi yang minim yang bahkan untuk menuju ke daerah keramaian saja dibutuhkan waktu 2 jam dengan melewati terjal tebing serta hutan dan jalan berbatu. Selain itupun, daerah ini berada sekitar 6-7 jam dari kota bandung. Bayangkan, apabila kusarankan anak tersebut untuk dilakukan operasi di RSHS, kurasa itu benar-benar konyol. Beliau jelas membutuhkan uluran bantuan. Tapi hingga saat aku menulis ini pun, aku tak tahu bagaimana caranya.

Sobat, kita dengan mereka adalah sama. Sama-sama memiliki hak untuk berbahagia dengan kualitas hidup yang baik. Sebagian bisa berkata, itu nasib. Tetapi aku pun bisa sampaikan, nasib kita juga yang seharusnya ditugaskan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan dan kompetensi kita masing-masing. Dan mereka adalah bagian dari masyarakat itu.



*Cerita kecil dari desa Tipar, kec.Pameungpeuk, Garut. Mungkin, tidak ada yang melihatnya ketika itu.

itu ceritaku.. apa ceritamu?

Kamis, 03 November 2011

Orang Asing

Tidakkah dirimu merasa jengah? Kau tahu, kini kau dibuang. Seolah kau tidak punya tempat lagi di selimut bumi ini. Dirimu tenggelam dalam anggapan benak-benak yang kotor. Kau bagai sampah bernyawa. Dibuang, dan kembali lagi. Diinjak, dan lagi-lagi kembali. Isi kepalamu seperti tidak punya logika. Kau juga tahu, tubuhmu lemah seperti arang. Tetapi lagi-lagi kembali. Lagi-lagi.

Tidakkah dirimu merasa malu? Kau tahu, kau berbeda. Tingkahmu asing. Pikirmu aneh. Kau tahu, kau selalu dianggap bodoh dan kaku. Jika orang jadi sepertimu, pasti jatuh miskin. Begitu orang pikir. Tapi lagi-lagi kau kembali. Lagi-lagi.

Aku tak mengerti seberapa hebat kau. Aku tak peduli itu. Aku hanya mau tahu alasan. Mengapa kau mampu bertahan.

Kamis, 01 September 2011

Dosa Yang Terabaikan

Pagi-pagi matahari belum menyapa. Dinginnya mendekap tubuh yang masih malas beranjak dari tempat aku bermimpi. Terdengar gema takbir yang memang tiada henti berkumandang semalaman dari pengeras suara masjid di dekat rumah. Kudirikan sholat subuh dan dilanjutkan sholat ied ketika waktu dhuha akan tiba.

Tepat pukul 7, kami memulai sholat. Tempatnya begitu ramai karna masjid ini menjadi satu dari beberapa masjid yang menyelenggarakan sholat ied pada hari itu. Maklum, kami berlebaran pada hari yang berbeda dengan kebanyakan. Berbeda, tetapi tidak masalah. Toh masih sama-sama telah laksanakan puasa Ramadhan.

Setelah sholat, kulihat beberapa orang berdiri dan mengambil seonggoh kain. Aku sedikit tak sadar apa yang akan mereka lakukan. Seketika mereka berjalan berkeliling mengitari jamaah. Ternyata mereka sedang edarkan kotak amal. Hingga sadar, ternyata aku tak membawa uang sepeserpun.

Sebenarnya ini hal yang sepele. Ternyata bagiku tidak. Dahulu aku amat terbiasa menyisihkan uang untuk berinfak setiap hari. Kusiasati dengan menyediakan kotak khusus di dalam kamar untuk aku berinfak dan bila telah penuh maka kuberikan kepada sebuah yayasan amal. Anehnya, sungguh bahagia setiap kali melihat kotak itu penuh. Padahal tahu bahwa itu bukanlah tabungan pribadi.

Namun bulan terakhir ini, aku tidak lagi menyiapkan kotak itu. Mulanya aku masih ingat untuk berinfak setiap hari di berbagai kesempatan. Namun akhirnya aku sering lupa. Bahkan sempat tidak pernah sama sekali dalam beberapa minggu. Sekali lagi, bagiku ini bukan hal sepele. Aku sudah tidak terbiasa berbuat kebaikan walaupun hanya sekedar berinfak.

Abdullah bin Mas'ud r.a. pernah berkata, "Biasakan berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan." Kini aku mengerti, jangan pernah tinggalkan kebiasaan baik. Karena sebaliknya, kebiasaan buruklah yang akan memenuhi aktivitas-aktivitas kita. Na'udzubillah.

Minggu, 19 Juni 2011

Ma'iyyatullah

Bola mataku terlalu kecil tuk melihat anggun-Mu. Telingaku pun hanya dua. Hanya bisa berprasangka atas keindahan kata-Mu. Otakku yang tersimpan rapat dalam kepala cuma sekedar menjalani kehendak-Mu. Inilah batasku. Engkau yang kuasa.

Aku tak pernah bisa melihat masa depan. Sekali lagi, aku hanya berprasangka. Demi mengobati jiwa yang lemah, aku jadi gila. Sayang, lagi-lagi gagal. Padahal yang kecil suatu saat jadi besar. Sayang, lagi-lagi keliru.

Maka nasib Allah yang tentukan. Tapi manusia gerakkan tubuhnya. Tidak sendiri. Manusia dan Allah, akan jadi kombinasi yang indah. Ma'iyyatullah.

Selasa, 10 Mei 2011

Mencari Kejujuran?

Kebanyakan mencari-cari orang jujur. Tidak aneh. Anggapannya, mungkin kini jarang. Tetapi menggelikan. Mengapa tidak dicari dahulu dalam dirinya masing-masing?

Ini jadi trend. Perilaku tidak sehat secara mental ini telah mengakar bikar. Bahkan konyol. Yang terbiasa "polos" malah dianggap "sok suci". Entah sengaja atu tidak, tetapi pendusta memang cenderung lega ketika individu lainnya bersama-sama dengannya mengalirkan dusta yang tak berujung. Apakah itu kerelaan? Atau kepuasan?

Selasa, 19 April 2011

Ini etika Bung!

Memegang keramahan kata-kata yang mengalir terucap memang bukan hal mudah. Tahan! Tapi ini etika Bung!

Manusia dianugrahkan emosi yang begitu luar biasanya mampu mengendalikan gerak geriknya. Dia bermain bagai air. Ketika mendidih, meluap-luap. Kala membeku, jadi hening. Meski otak lihai berbicara, namun emosi kadang jadi pahlawan. Begitulah fungsi emosi. Menembus batas-batas keputusasaan otak dalam menyelesaikan masalah yang terlihat mustahil. Memang ajaib.

Tapi tunggu dulu bung! Anda tidak dapat jadikan ini sebagai alasan 'tuk jadikan emosi sebagai garda terdepan dalam hal apapun. Otak dan emosi bukan lawan. Mereka teman. Mereka kawan dalam kebersamaan. Mereka menyempurnakan. Bukan satu membunuh yang lainnya!

Begitu juga dengan mulut! Dia adalah pintu keluar mereka. Jika emosi yang keluar lebih dulu, maka hasilnya jadi emosional. Jika otak yang keluar lebih dulu, maka bisa tak manusiawi. Tapi lihat! Jika keduanya keluar bersama-sama, alunannya mengalir indah. Jadi bernyawa, namun manusiawi dan cerdas!

Begitupun kepala ini! Sangat tak berkenan dengan kata-kata menjijikkan yang terpaksa masuk ke liang telinga yang juga muak dengan kekotorannya! Dimanakah letak kesantunan itu? Sudah terlanjur dibuang jauh kah? Atau engkau sudah bunuh otak itu?

"Mereka adalah yang berzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring dan berpikir pada penciptaan langit dan bumi.." Ali Imron 191

Allah SWT telah ajarkan ini kepada insan. Orang berakal sehat adalah yang gunakan aktivitas hati dan otak nya bersama-sama. Tutur kata yang tidak waras, mungkin sudah mampu engkau tebak asalnya!

Mari sama-sama belajar kembali apakah isi diri kita ini sudah pantas untuk diserahkan kepada-Nya kelak.

Jumat, 01 April 2011

Istiqomah

Kepada akar yang terus menghujam.
Kepada langit yang kokoh tanpa runtuh.
Kepada embun yang setia membasahi bumi.
Kepada sungai yang jemarinya menjalar ke laut.

Tetaplah begitu.
Hingga masa ketika engkau telah usai dengan tugas-tugas mulia.
Tapi nasibmu memang begitu.
Karena engkau adalah pilihan Tuhan.

Engkau pikir mungkin jadi sampah.
Engkau pun pikir jadi ilalang.
Yang diinjak-injak kezhaliman
dan kemunafikan
di sekitar jalan kesucian.

Namun janganlah engkau khawatir. Tuhan Maha Memberi Perhitungan.