Memegang keramahan kata-kata yang mengalir terucap memang bukan hal mudah. Tahan! Tapi ini etika Bung!
Manusia dianugrahkan emosi yang begitu luar biasanya mampu mengendalikan gerak geriknya. Dia bermain bagai air. Ketika mendidih, meluap-luap. Kala membeku, jadi hening. Meski otak lihai berbicara, namun emosi kadang jadi pahlawan. Begitulah fungsi emosi. Menembus batas-batas keputusasaan otak dalam menyelesaikan masalah yang terlihat mustahil. Memang ajaib.
Tapi tunggu dulu bung! Anda tidak dapat jadikan ini sebagai alasan 'tuk jadikan emosi sebagai garda terdepan dalam hal apapun. Otak dan emosi bukan lawan. Mereka teman. Mereka kawan dalam kebersamaan. Mereka menyempurnakan. Bukan satu membunuh yang lainnya!
Begitu juga dengan mulut! Dia adalah pintu keluar mereka. Jika emosi yang keluar lebih dulu, maka hasilnya jadi emosional. Jika otak yang keluar lebih dulu, maka bisa tak manusiawi. Tapi lihat! Jika keduanya keluar bersama-sama, alunannya mengalir indah. Jadi bernyawa, namun manusiawi dan cerdas!
Begitupun kepala ini! Sangat tak berkenan dengan kata-kata menjijikkan yang terpaksa masuk ke liang telinga yang juga muak dengan kekotorannya! Dimanakah letak kesantunan itu? Sudah terlanjur dibuang jauh kah? Atau engkau sudah bunuh otak itu?
"Mereka adalah yang berzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring dan berpikir pada penciptaan langit dan bumi.." Ali Imron 191
Allah SWT telah ajarkan ini kepada insan. Orang berakal sehat adalah yang gunakan aktivitas hati dan otak nya bersama-sama. Tutur kata yang tidak waras, mungkin sudah mampu engkau tebak asalnya!
Mari sama-sama belajar kembali apakah isi diri kita ini sudah pantas untuk diserahkan kepada-Nya kelak.
Selasa, 19 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Istiqomah
Kepada akar yang terus menghujam.
Kepada langit yang kokoh tanpa runtuh.
Kepada embun yang setia membasahi bumi.
Kepada sungai yang jemarinya menjalar ke laut.
Tetaplah begitu.
Hingga masa ketika engkau telah usai dengan tugas-tugas mulia.
Tapi nasibmu memang begitu.
Karena engkau adalah pilihan Tuhan.
Engkau pikir mungkin jadi sampah.
Engkau pun pikir jadi ilalang.
Yang diinjak-injak kezhaliman
dan kemunafikan
di sekitar jalan kesucian.
Namun janganlah engkau khawatir. Tuhan Maha Memberi Perhitungan.
Kepada langit yang kokoh tanpa runtuh.
Kepada embun yang setia membasahi bumi.
Kepada sungai yang jemarinya menjalar ke laut.
Tetaplah begitu.
Hingga masa ketika engkau telah usai dengan tugas-tugas mulia.
Tapi nasibmu memang begitu.
Karena engkau adalah pilihan Tuhan.
Engkau pikir mungkin jadi sampah.
Engkau pun pikir jadi ilalang.
Yang diinjak-injak kezhaliman
dan kemunafikan
di sekitar jalan kesucian.
Namun janganlah engkau khawatir. Tuhan Maha Memberi Perhitungan.
Sabtu, 12 Maret 2011
Aku Iri.
Begitulah manusia ini menjaga dan memelihara asa kesyukuran pada Tuhannya. Keringatnya kerap mengalir. Melabuhkan diri pada tempat dimana kakinya berpijak. Mereka tuli? tidak. Mereka bahkan memanen cacian dari orang yang suka melempar caci. Lalu apakah mereka buta? sama sekali tidak. Terang-terangan orang di sekitarnya membunuh nurani suci melekat dalam dada. Ah. Merekalah yang selalu memiliki momentum dalam hidupnya. Begitulah asa kesyukuran pada Tuhannya.
Hidup. Kaki mereka. Tangan mereka. Telinga mereka. Mulut mereka. Pikiran mereka. Hati mereka. Semangat mereka. Semua hidup tanpa bayang keraguan. Itulah jati diri. Kuat mencengkerama. Langkah mereka menjulang tinggi. Padahal tak ada sayap. Itu bukan angan-angan kosong.
Tak sadar aku telah iri. Pada mereka yang tulangnya tahan banting. Yang kepalanya tertunduk bukan lesu. Melainkan pandangan yang tak terundang maksiat. Yang wajahnya merekah bagai bunga merona. Tebaran senyum bukan sekedar pesona. Yang tangannya berurat, tapi lembut. Yang kedua kakinya kian bengkak karena enggan kenal henti. Yang hatinya abadi untuk-Nya.
Aku iri dengan mereka.
Hidup. Kaki mereka. Tangan mereka. Telinga mereka. Mulut mereka. Pikiran mereka. Hati mereka. Semangat mereka. Semua hidup tanpa bayang keraguan. Itulah jati diri. Kuat mencengkerama. Langkah mereka menjulang tinggi. Padahal tak ada sayap. Itu bukan angan-angan kosong.
Tak sadar aku telah iri. Pada mereka yang tulangnya tahan banting. Yang kepalanya tertunduk bukan lesu. Melainkan pandangan yang tak terundang maksiat. Yang wajahnya merekah bagai bunga merona. Tebaran senyum bukan sekedar pesona. Yang tangannya berurat, tapi lembut. Yang kedua kakinya kian bengkak karena enggan kenal henti. Yang hatinya abadi untuk-Nya.
Aku iri dengan mereka.
Kamis, 10 Maret 2011
Pengkhianatan
Maafkan aku Rabbi.
Lidah ini kerap bertingkah jengah.
Tapi tak sadar, adalah pengkhianatan!
Terhadap tangan yang terbelenggu kaku.
Menampik, padahal berlutut pada kenistaan.
Menelusuri ruang yang bernama, hampa.
Hanya ada nilai hina di sana.
Aku tak mau seperti itu.
Begitulah yang aku tangkap dari sebuah slogan besar, "Knowledege is power, but character is more..". Mungkin adalah benar jika banyak untuk temukan manusia dengan kepala berbobot. Pikirannya menonjol, berenang-renang dengan ide-ide kreatif nan inovatif. Otaknya bak mulut yang berisik. Hanya saja, itu khianat. "Pepesan kosong". Mulutnya ucap, "Aku sudah lakukan ini, itu, dan sebagainya..". Begitulah cara tubuhnya khianati kepala di atasnya. Kerjanya kosong tak berisi.
Aku tak mau seperti itu.
Lidah ini kerap bertingkah jengah.
Tapi tak sadar, adalah pengkhianatan!
Terhadap tangan yang terbelenggu kaku.
Menampik, padahal berlutut pada kenistaan.
Menelusuri ruang yang bernama, hampa.
Hanya ada nilai hina di sana.
Aku tak mau seperti itu.
Begitulah yang aku tangkap dari sebuah slogan besar, "Knowledege is power, but character is more..". Mungkin adalah benar jika banyak untuk temukan manusia dengan kepala berbobot. Pikirannya menonjol, berenang-renang dengan ide-ide kreatif nan inovatif. Otaknya bak mulut yang berisik. Hanya saja, itu khianat. "Pepesan kosong". Mulutnya ucap, "Aku sudah lakukan ini, itu, dan sebagainya..". Begitulah cara tubuhnya khianati kepala di atasnya. Kerjanya kosong tak berisi.
Aku tak mau seperti itu.
Jumat, 04 Maret 2011
Yang aku tahu..
Aku takkan tahu rahasia ini. Hingga kelak saatnya menjelma takdir.
Yang aku tahu, dia adalah angin.
Yang berusaha selalu menyejukkan pandanganku dengan halal.
Yang aku tahu, dia adalah api.
Yang berusaha membakar selalu kayu-kayu semangat hingga terkumpul bulat.
Yang aku tahu, dia adalah awan.
Yang berusaha menyelimuti dari rasa gerah penatnya amanah.
Yang aku tahu, dia adalah surya.
Yang berusaha menghangatkanku dari dinginnya kemalasan, yang buatku kaku.
Yang aku tahu, dia adalah hujan.
Yang bulir-bulir air matanya mengalir deras saatku payah.
Dan yang aku juga tahu, tak perlu aku tahu kini.
Yang aku tahu, dia adalah angin.
Yang berusaha selalu menyejukkan pandanganku dengan halal.
Yang aku tahu, dia adalah api.
Yang berusaha membakar selalu kayu-kayu semangat hingga terkumpul bulat.
Yang aku tahu, dia adalah awan.
Yang berusaha menyelimuti dari rasa gerah penatnya amanah.
Yang aku tahu, dia adalah surya.
Yang berusaha menghangatkanku dari dinginnya kemalasan, yang buatku kaku.
Yang aku tahu, dia adalah hujan.
Yang bulir-bulir air matanya mengalir deras saatku payah.
Dan yang aku juga tahu, tak perlu aku tahu kini.
Sabtu, 26 Februari 2011
Keberanian
Bukan aku tak takut api, tetapi air punya daya. Berjalan melalui semak-semak, kodok pun tidak takut ular yang mulutnya cukup besar menelan dia hidup-hidup. Bahkan sel-sel imun tubuh tak pernah tahu juga makhluk asing apa yang akan masuk. Tetapi mereka tak pernah diam ketakutan, oleh karenanya respon tubuh terhadap benda asing akan selalu tampak. Jiwa-jiwa mereka berani.
Alangkah bijak Rasulullah yang bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (HR. Bukhori/Muslim). Bukan hanya masalah bagaimana berkuda, berenang, ataupun memanah. Rasulullah paham benar bahwa aktivitas itu adalah sarana untuk melatih keberanian semenjak kecil. Pernah berenang? Awalnya aku pun takut jika tenggelam. Hingga aku diajari, lahir keberanian.
Keberanian itu terlahir, menjelma dari kandung percobaan. Sekali, maupun kesekian kalinya percobaan itu.
Alangkah bijak Rasulullah yang bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (HR. Bukhori/Muslim). Bukan hanya masalah bagaimana berkuda, berenang, ataupun memanah. Rasulullah paham benar bahwa aktivitas itu adalah sarana untuk melatih keberanian semenjak kecil. Pernah berenang? Awalnya aku pun takut jika tenggelam. Hingga aku diajari, lahir keberanian.
Keberanian itu terlahir, menjelma dari kandung percobaan. Sekali, maupun kesekian kalinya percobaan itu.
Rabu, 09 Februari 2011
Segera Bereskan!
Dimana dia? Dimana tuan kecil yang bersarang dalam cangkang yang kuat itu? Begitu lemahkah dia bicara perintah? Tubuhku sudah terlalu kaku. Banyak rebah-rebah di atas kasur empuk. Sedikit sekali karya manis dari tangan yang terlanjur lemas.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Pikiran ini perlu aku bagikan. Di sini, aku mengutip perkataan dari seorang ustadz, "Jangan engkau menunggu-nunggu dapat petunjuk, bergeraklah dan bergegaslah maka Allah akan berikan petunjuk-Nya." Kali pertama, aku terbesit dengan celotehan kecil yang pernah terdengar semasa aku remaja. Banyak yang katakan bahwa memakai jilbab membutuhkan hidayah khusus dari Tuhan sehingga menjelma jadi alasan bagi yang belum mau mengenakannya. Dulu aku mengangguk-angguk saja. Kini otakku bergelut tidak sepakat. Memangnya Allah akan beri dengan hanya menunggu?
Itu kisah dulu. Dan kini ia menimpa kembali. Fenomenanya tidak terlampau besar, tetapi banyak. Andaikan kudengar kembali ustadz tadi berkata kepadaku langsung, pastilah ucapannya "Jangan jadi mahasiswa penunggu kelulusan, bereskan dengan segera maka Allah akan berikan kelulusan kepadamu dengan segera pula."
Insya Allah.
*Di tengah-tengah sibuknya skripsi, setidaknya tidak menyibukkan untuk menulis.
Langganan:
Postingan (Atom)