Selasa, 25 Mei 2010

Lapangkanlah hatimu, sahabat!


Tahukah kamu ada gambar yang tersembunyi di sini?

Suatu saat ada seorang pemuda, datang kepada seorang kakek. Ia menceritakan segala keluhan dan masalahnya kepada kakek tersebut. Sesaat setelah pemuda itu selesai mengeluh, kakek ini meminta sang pemuda untuk menyiapkan segelas air minum. Lalu air tersebut dibubuhi garam, lalu di aduk. Setelah itu, dimintalah pemuda itu untuk meminumnya. Jelas, air itu akan terasa sangat asin. Terlihat dari mimik mukanya yang berubah setelah meminumnya. Sang kakek pun tersenyum.

Setelah nya, dibawalah pemuda ini ke sebuah danau yang jernih lagi bersih airnya. Sang kakek melakukan hal yang hampir sama, disebarlah beberapa cuil garam ke danau dan di aduk-aduknya dengan setongkat kayu. Lalu pemuda itu diminta untuk meminum air danau yang telah diberi garam tadi. Bagaimakah rasanya? Ternyata air itu tidak terasa asin. Bahkan masih terasa segar, seperti tidak ada apapun yang mencampuri di sana.

Ada sebuah hikmah di sini. Coba kita ibaratkan bila garam itu masalah kita sendiri, sedangkan gelas dan danau itu adalah bentuk hati kita. Saat masalah itu kita timpalkan pada hati yang kecil dan sempit layaknya gelas yang digambarkan sebelumnya, maka seolah masalah sangat pahit dan terasa. Namun jika masalah itu diberikan kepada hati yang lapang dan luas, ia akan menjadi sesuatu hal yang tidak akan terasa sakitnya.

Logis jika mulai dari sekarang, mari sama-sama lapangkan hati ini seluas-luasnya. Karna bisa jadi masalah tidak seluas yang kau kira!

Sabtu, 22 Mei 2010

Pasto~Sahabat (lyric)

Hidup ini tak sempurna
Khayalan tak selalu nyata
Sahabat jangan pernah menyerah

*
Jangan berhenti berharap
Kita ini yang terkuat
Saatnya jadi peran utama

**
Aku bisa kaupun bisa
Meraih mimpi setinggi bintang berkilau
Bersama-Nya ku percaya
Kita ditakdirkan jadi yang terhebat

***
Marilah genggam tanganku
Berlari kita terpacu
Jangan pernah ada ragu
‘tuk jadi yang nomer satu

****
Rintangan paling berarti
Rasa takut dalam diri
Selama kita sehati
Mimpi kita takkan mati

Sahabat..

Masih kah mau kau terus bertahan..bersama disini, wahai sahabat?

Senin, 17 Mei 2010

Rokokmu, bahaya kita!


Sebuah kiasan yang mungkin tepat untuk para pecandu rokok, "Yang bakar uang rugi, yang kebagian asap nya juga rugi." Ironis memang. Rokok itu dibeli, namun merusak. Banyak pendekatan alasan ilmiah yang sebenarnya dapat diambil untuk merefleksikan hal tersebut. Pencerdasan ilmiah dalam bidang medis pun telah banyak memberikan bukti logis sebagai tema utama dalam upaya pencegahan konsumsi rokok dalam kehidupan masyarakat saat ini. Namun terkadang itu tidak cukup menggerakkan akal sehat manusia ini untuk mulai menjauhi rokok.

Rokok telah menjadi salah satu aktor utama sebagai faktor resiko dalam timbulnya bermacam-macam penyakit yang ada saat ini. Tercatat sebanyak 14 kali peningkatan resiko terkena kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan; 4x menderita kanker esophagus; 2x kanker kandung kemih; dan 2x serangan jantung akibat mengisap rokok ini. Belum lagi penyakit saluran pernapasan yang lain seperti COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) yang bisa berakibat kelainan sulit bernapas maupun infeksi di sana. Penyakit kardiovaskuler yang akan timbul pun juga tidak kalah hebatnya seperti kelainan gagal jantung ataupun hipertensi yang bisa berakibat resiko fatal.

Berbagai macam mekanisme pathologis terjadi akibat menghisap asap rokok, baik untuk perokok aktif maupun pasif. Mekanisme bioselular yang terjadi salah satunya adalah perubahan bentuk sel-sel epitel di saluran pernapasan yang menjadi salah satu proses awal terbentuknya sel kanker. Bila ini terjadi pada saluran pernapasan bawah, akan merangsang sel-sel peradangan dan mengakibatkan terjadinya kerusakan kantong udara dan pembengkakan di sana, atau dalam istilah kedokterannya disebut emphysema. Penyempitan saluran akibat cairan mucus berlebih yang dirangsang oleh sel-sel peradangan tadi dapat pula menyebabkan munculnya gejala bunyi nafas seperti asma (wheezing). Dari sana, timbul berbagai macam komplikasi multiorgan dalam tubuh, seperti kelainan gagal jantung yang telah disebutkan di atas.

Atas dasar itu, maka merokok jelas membahayakan perokok itu sendiri, juga perokok lain di sekitarnya. Sayangnya, kaum yang tidak merokok ternyata lebih sensitive terhadap asap rokok, sehingga rokok lebih berbahaya kepada mereka karena reaksi tubuh yang ditimbulkan terhadap asap rokok juga lebih tinggi dampaknya terhadap kesehatan. Padahal, asap rokok yang ada bila dikonsumsi menghasilkan 4% asap yang memang perokok itu sendiri hisap, sisanya 96% keluar sebagai asap bebas yang memang lebih berbahaya karena terbakar pada suhu tinggi dan tanpa saringan sehingga lepas ke udara bebas. Sebagai tambahan bahwa asap yang keluar bebas tersebut lebih banyak mengandung zat-zat yang berbahaya. Maka tidak salah jika paradigma yang ada selama ini bahwa perokok pasif akan lebih mengalami dampak buruk terhadap asap rokok bila dibandingkan perokok itu sendiri.

Lebih miris lagi bila kita bayangkan asap rokok itu sering terhisap oleh ibu-ibu yang sedang hamil. Jelas bahwa rokok membahayakan janin yang ada di dalam kandungan, sehingga resiko janin tersebut lahir dengan kecacatan lebih besar. Maka ibu-ibu hamil yang menjadi perokok pasif lah yang kita khawatirkan. Tidak ada satupun orang tua yang rela anaknya cacat akibat asap rokok yang ditimbulkan orang di sekitarnya. Ini menjadi catatan yang penting pula bagi para suami yang memang menjadi orang yang paling terdekat dalam lingkungan sang istri.

Mungkin tidak anda sadari bahwa jumlah perokok itu sebenarnya tidaklah sebanyak yang tidak merokok. Logis jika dikatakan bahwa lebih banyak orang yang memang tidak ingin merokok dibandingkan yang ingin. Jelas pula bahwa merokok itu hanyalah sebuah pilihan, sedang bernafas adalah kebutuhan. Maka bila pilihan itu berdampak buruk bagi kebutuhan itu sendiri, tidak sepatutnya sang pemilih tidak sadar bahwa mereka telah berbuat zholim. Secara sosial, pelaku jelas harus ada sangsi tegas atasnya, karena hak asasi orang-orang yang tidak merokok terlanggar. Bahkan inilah yang membuat WHO menetapkan Lingkungan Bebas Asap Rokok sebagai tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diadakan setiap tanggal 31 Mei itu.

Selama ini masyarakat mungkin merasa aman bila diberlakukannya pemisahan kawasan merokok dengan area bebas rokok. Padahal belum ada jaminan bahwa area bebas merokok itu benar-benar bebas terhadap asap rokok sehingga pemisahan kawasan itu tidak berpengaruh banyak. Selain itu, belum pula ditemukan teknologi ventilasi atau penyaringan udara yang dapat menghilangkan sepenuhnya asap rokok. Maka bisa jadi pemisahan kawasan itu bukanlah solusi efektif untuk mencegah dampak rokok.

Belum lagi dampak dari asap rokok yang berkeliaran di dalam gedung dan ruangan semisal ruang kerja untuk para pegawai kantoran. Ini biasa disebut Sick Buliding Syndrome. Pekerja-pekerja kantoran yang memang lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan sangat rentan mengalaminya, apalagi bila ditambah dengan perilaku mereka sendiri yang menjadikan rokok sebagai “obat penenang” mereka dalam kondisi stress. Semakin menjadilah permasalahan yang ditimbulkan akibat rokok itu.

Saat ini para ustadz pun juga telah sering mengingatkan bahaya rokok itu. Bila merujuk pada fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh MUI ataupun Muhammadiyah misalnya, di luar pro kontra terhadapnya, maka sudah sepatutnya kita sama-sama mulai menjauhi rokok dengan alasan-alasan keresahan terhadap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, mulai dari dampak kesehatan sampai dampak sosial yang muncul.

Korban-korban akibat rokok sudah banyak berjatuhan, sekarang tinggal kita yang memilih. Apakah kita yang menjadi korban selanjutnya? Ataukah kita yang menjadi penyelamat para korban itu? Tentukan pilihanmu!



Ka. DEW 3 FULDFK

Jumat, 07 Mei 2010

Jantung saya gak egois..


Akhir-akhir ini, terbesit sebuah hal yang sebenarnya kecil, namun bisa menjadi ladang hikmah tersendiri di sana..

Tentang jantung. Baru saya sadar, ternyata jantung itu gak egois. Coba kita lihat. Dalam mekanisme kontraktilitas nya, jantung memiliki aktivitas yang automatis dalam memberikan stimulus untuk otot jantung dapat berkontraksi sendiri dengan ritme tertentu. Karna jantung memiliki fungsi sebagai pemompa darah, maka ia berkontraksi lalu memompakan darah ke paru-paru dan ke seluruh tubuh, yang biasa kita sebut systole. Setelah itu, saat darah ter-ejeksi keluar dari jantung, maka jantung akan mengalami fase relaksasi ventrikel dimana katup yang menuju pembuluh aorta akan menutup. Saat menutup, darah yang terejeksi sebagian kecil akan mengalir balik untuk mengalirkan darah ke pembuluh darah jantung itu sendiri. Fase itu dinamakan diastole.

Saat saya pikir, ini unik. Jantung seolah memprioritaskan nutrisi nya untuk organ lainnya terlebih dahulu. Dia juga tidak keberatan untuk mengatur supply nutrisi itu sendiri. Dia korbankan nutrisi buat dirinya sendiri yang juga sebenarnya hanyalah sisa yang ada. Padahal, kita tahu bahwa karena itulah ia menjadi lebih rentan terhadap penyakit kurang gizi.

Tepat atau tidak, tapi bagi saya ini bisa menjadi contoh, bahkan untuk seorang pemimpin sekalipun. Sebagai pelayan rakyatnya, figur pemimpin dituntut untuk dapat memberikan pengorbanan lebih. Ia tidak akan kekenyangan jika rakyat nya masih kelaparan. Ia pun dituntut untuk dapat profesional dalam mengatur aktivitasnya, karena saat ia tidak teratur maka rakyatnya pun akan terkena dampaknya. Sama halnya dengan jantung yang mengalami arrhythmia maka supply darah ke organ lain pun akan terganggu.

Ini baru secarik hikmah yang bisa dipetik. Padahal, bisa jadi ia menjadi seperti batu permata yang memiliki banyak sisi di permukaannya. Banyak hikmah yang mungkin bisa dilihat dari sudut pandang yang lain. Waallahualam..

Rabu, 28 April 2010

Cinta itu tindakan!


Ada Seorang Wanita ,Kulitnya hitam, Wajahnya kelihatan keriput. Usianya tua dimakan penyakit dan ada seorang lelaki Kaya dan tampan,yang ingin menikahi wanita tersebut..

Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Sejak awal ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.

Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati...terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata... Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon ; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin mengangga lebar dalam masyarakat kita.

"Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA, Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA untuk orang banyak."Atau paling sedikit berguna untuk diri kita dan keluarga kita bila tuntutan ini terasa terlampau tinggi..

*Copas dari notes yg inspiratif..:)

Selasa, 27 April 2010

Saya mau diatur!

Tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan terang. Q.S Al Maidah 48

Sungguh heran. Saat Allah memang telah meletakkan aturan-aturanNya kepada umat manusia, saat itu pula banyak hamba Nya seakan menolak terhadapnya. Kelalaian kita dalam penerapannya; baik lingkup ritual, sosial, muamalah, maupun prilaku; menjadi bukti. Padahal, apapun alasannya, manusia selalu bergantung kepada aturan Nya. Itu fitrah. Jelas, karna Dia Maha Mengetahui maka aturan Nya pun sempurna.

Ibaratnya, saat seseorang membeli suatu produk mobil, maka ia akan menanyakan buku panduan dari produk tersebut. Jelas, ia pasti akan menanyakannya kepada produsennya. Tidak mungkin kita membeli mobil A, tapi minta buku panduan mobil B. Begitu pula hakikat pencipta kita. Yang menciptakan kita pasti lebih tahu apa yang memang baik untuk kita. Logis.

Maka saat tahu bahwa berbohong itu dilarang, kenapa belum jujur? Saat tahu bahwa babi diharamkan, kenapa malah cari alasan agar babi dibolehkan? Saat tahu islam itu benar, kenapa malah menghindar?..

Lindungiku dari kelalaian ini, ya Rabb..

Kamis, 15 April 2010

Akal..bukan hanya sekedar berpikir,

Akal..

Banyak dari kita mungkin menganggap akal itu adalah buah dari pemikiran. Padahal makna akal itu sendiri tidak sesempit itu..

Dalam surat Ali Imron ayat 190-191, Di sana disebutkan bahwa orang-orang yang berakal adalah yang terus mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri, maupun berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.

Pemaparan dari ayat tersebut menyiratkan bahwa akal adalah gabungan antara aktivitas hati dan pikiran. Saat proses berpikir kita cukup matang, namun tidak diimbangi dengan perantauan ke dalam hati, maka bisa jadi akan melahirkan sesuatu yang malah menimbulkan kerusakan. Maka, rahim dari kerusakan itu sendiri adalah rahim yang cacat dari kehilangan komponen hati. Komponen yang selalu menjaga proses kecerdasan intelektual dengan kebesaran makna hati. Itulah iman.

Maka bisa jadi, mengapa banyak orang cerdas, namun tidak memancarkan manfaat. Banyak teknologi canggih yang malah daya rusak nya lebih besar dari nilai kegunaannya. Tampak manfaat, namun tidak berkah. Hanya bagaikan suatu mesin yang akan usang suatu saat.

Wallahualam.