Dalam cita rasa sebagai pejuang, meninggalkan itu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan. Begitu kata pejuang. Orang yang sering merasakan yang tidak semua merasakan. Orang spesial.
Pejuang merasa dalam cita rasanya, selalu ada cinta. Cinta yang menggelorakan seluruh panca indra nya menjadi tidak begitu bernyawa. Benar, cinta yang membutakan! Buta dari logika ketidaknyamanan, duka, kesedihan, yang berujung putus asa. Tuli? Benar! Dari bisikan untuk berhenti. Atau untuk berlari ke tepian danau dan berenang bersama ikan-ikan buas yang bercorak manis. Kebas? Tentu saja! Sudah terlampau penuh peluru yang meronggai tubuhnya.
Pejuang itu tampak cacat ya?
Sejatinya, tidak.
Selasa, 12 Maret 2013
Kamis, 27 Desember 2012
Cerpen: Takdir Tidak Salah..
"Tidak bisa dimengerti! ".
"Mengapa mereka tega membiarkan pasien itu terlantar begitu saja?!", keluh seorang ibu-ibu muda yang juga tengah berada di sebuah Rumah Sakit.
Pasien itu merujuk pada seorang bocah yang terlambat masuk kamar operasi karena dikatakan penuh. Suasana begitu ramai, ditambah ada yang sangat berisik meraung-raung kesakitan. Malam itu, jalanan sedang memakan banyak korban kelalaian masuk terbawa ke Rumah Sakit ini.
Dua jam yang lalu, aku dilarikan ke Rumah Sakit akibat kecelakaan yang menyebabkan kakiku patah dan berdarah hebat. Aku yang baru belajar bersepeda tidak menyadari bahwa jari kakiku tersangkut di antara gerigi rantai. Seketika akupun terjatuh dan kakiku pun patah. Kala itu, tidak ada siapapun. Sontak saja aku merintih. Tak lama aku dibawa warga pulang ke rumah dan menceritakannya pada ayahku.
Tiba di Rumah Sakit, seseorang berbadan besar menghampiri aku dan ayahku. Aku langsung menjerit.. "Ini siapa?!"
"Pak, IGD dimana Pak?", tanya ayahku.
"Oh, nanti Bapak lurus saja memutari gedung ini, nanti ada tulisan IGD..", jawab orang itu sambil tersenyum agak manis.
"Terima kasih, Pak!", lanjut ayahku. Kemudian ia menatapku, "Tenang Nak, itu Bapak Satpam namanya.. Bukan penjahat.."
Kemudian kami masuk ke ruang IGD. Ruangannya penuh dan terasa sesak. Banyak orang berbaju putih berkeliaran di sekitarku. Kututupi saja wajahku.
"Apa aku menangis saja?!", dalam hati.
"Pak, bagaimana kejadiannya Pak?", tanya salah seorang dari mereka dengan lembut.
Ayahku menceritakan kembali sama persis dengan apa yang aku ceritakan. Setelah selesai, ayahku bilang kepadaku, "Nak, itu tadi Bapak Dokter yang mau memeriksa.."
Selang beberapa menit, seorang ibu-ibu berseragam biru muda menghampiriku. Ia menyiapkan beberapa jarum dan tabung berukuran kecil. Aku semakin bingung. Tiba-tiba ibu itu bilang, "Diambil darahnya dulu ya, Nak..".
Jleb!
Menangislah aku seketika. Rasanya sakit sekali seperti digigit semut merah di rumahku. "Sudah kok, Nak. Duh pinter..", ibu itu menyatakan bahwa ia telah selesai. Dan aku lega. "Itu ibu perawat, Nak.. Agak sakit ya? Sabar ya, Nak..", ayahku menambah hibur.
Beberapa saat kemudian, aku dibawa pindah ke ruangan untuk foto. Aku tak begitu mengerti. Tiba-tiba saja cahaya kilat seperti menyambarku, sebentar saja, lalu dibawa keluar lagi.
Waktu demi waktu berlalu. Ayahku terlihat agak cemas. Tampaknya dokter belum juga datang lagi menjelaskan tindakan apa yang akan dilakukan padaku. Tiba-tiba, aku merasa berbeda. Badanku menjadi lemas dan menggigil. Tanganku pun dingin tanpa keringat.
"Ayah, aku kedinginan.."
"Pakai jaket ayah saja ya, Nak", tukas ayahku sambil menadahkannya di atas tubuhku.
Suasana menjadi hening. Aku merasa tidak mendengar apa-apa. Dari atas, muncul seketika sesosok makhluk bertubuh tegap yang seperti ingin menjemputku ke suatu tempat.
Ia berkata, "Waktumu sudah tiba. Mari kubawa engkau ke tempat penantian..".
Aku menjawab, "Engkau siapa? Kenapa aku ingin dibawa?"
"Aku utusan langit."
Aku tidak begitu mengerti. "Lalu bagaimana dengan ayahku?"
"Ia sudah memasrahkan dirimu..", jawabnya.
Aku tanya lagi, "Lalu bapak Satpam, Dokter, dan Perawat yang tadi bagaimana? Masa aku tiba-tiba meninggalkan mereka begitu saja.."
"Mereka tengah berjuang mempertahankan nyawa yang lain untuk tidak kubawa.."
"Apa maksudmu?", sergahku.
"Setiap orang punya takdirnya masing-masing. Nasib memilih mereka yang diselamatkan, bukan engkau. Jadi, siapapun harus rela engkau kubawa.."
Aku terdiam termenung. Dalam sekejap ia hilang..
Dan aku seperti terbangun lagi mendengar ayahku histeris.
"Nak, ayo bangun, Nak!! Ayo Nak, sadarlah!..".
"Ayah.."
Tampaknya aku memang sudah kehabisan darah. Kesadaranku menurun. Mataku agak jadi gelap. Tampak samar-samar kulihat seorang yang disebut dokter itu tergesa-gesa menyadarkanku.. Lalu aku tak tahu lagi.
...
Aku mengerti. Kebetulan memang aku sedang tidak beruntung. Akhirnya takdir Tuhanlah yang berkata. Dokter pun yang digadang-gadang seperti "Dewa" pun tidak sanggup melawan-Nya. Mereka sudah terbawa skenario Tuhan untuk menolong yang lainnya. Itulah yang mungkin terbaik untuk mereka lakukan..
"Ayah, jangan salahkan mereka.."
Tangisan rintih terdengar sayup.
Dan aku lah sang bocah itu.
"Mengapa mereka tega membiarkan pasien itu terlantar begitu saja?!", keluh seorang ibu-ibu muda yang juga tengah berada di sebuah Rumah Sakit.
Pasien itu merujuk pada seorang bocah yang terlambat masuk kamar operasi karena dikatakan penuh. Suasana begitu ramai, ditambah ada yang sangat berisik meraung-raung kesakitan. Malam itu, jalanan sedang memakan banyak korban kelalaian masuk terbawa ke Rumah Sakit ini.
Dua jam yang lalu, aku dilarikan ke Rumah Sakit akibat kecelakaan yang menyebabkan kakiku patah dan berdarah hebat. Aku yang baru belajar bersepeda tidak menyadari bahwa jari kakiku tersangkut di antara gerigi rantai. Seketika akupun terjatuh dan kakiku pun patah. Kala itu, tidak ada siapapun. Sontak saja aku merintih. Tak lama aku dibawa warga pulang ke rumah dan menceritakannya pada ayahku.
Tiba di Rumah Sakit, seseorang berbadan besar menghampiri aku dan ayahku. Aku langsung menjerit.. "Ini siapa?!"
"Pak, IGD dimana Pak?", tanya ayahku.
"Oh, nanti Bapak lurus saja memutari gedung ini, nanti ada tulisan IGD..", jawab orang itu sambil tersenyum agak manis.
"Terima kasih, Pak!", lanjut ayahku. Kemudian ia menatapku, "Tenang Nak, itu Bapak Satpam namanya.. Bukan penjahat.."
Kemudian kami masuk ke ruang IGD. Ruangannya penuh dan terasa sesak. Banyak orang berbaju putih berkeliaran di sekitarku. Kututupi saja wajahku.
"Apa aku menangis saja?!", dalam hati.
"Pak, bagaimana kejadiannya Pak?", tanya salah seorang dari mereka dengan lembut.
Ayahku menceritakan kembali sama persis dengan apa yang aku ceritakan. Setelah selesai, ayahku bilang kepadaku, "Nak, itu tadi Bapak Dokter yang mau memeriksa.."
Selang beberapa menit, seorang ibu-ibu berseragam biru muda menghampiriku. Ia menyiapkan beberapa jarum dan tabung berukuran kecil. Aku semakin bingung. Tiba-tiba ibu itu bilang, "Diambil darahnya dulu ya, Nak..".
Jleb!
Menangislah aku seketika. Rasanya sakit sekali seperti digigit semut merah di rumahku. "Sudah kok, Nak. Duh pinter..", ibu itu menyatakan bahwa ia telah selesai. Dan aku lega. "Itu ibu perawat, Nak.. Agak sakit ya? Sabar ya, Nak..", ayahku menambah hibur.
Beberapa saat kemudian, aku dibawa pindah ke ruangan untuk foto. Aku tak begitu mengerti. Tiba-tiba saja cahaya kilat seperti menyambarku, sebentar saja, lalu dibawa keluar lagi.
Waktu demi waktu berlalu. Ayahku terlihat agak cemas. Tampaknya dokter belum juga datang lagi menjelaskan tindakan apa yang akan dilakukan padaku. Tiba-tiba, aku merasa berbeda. Badanku menjadi lemas dan menggigil. Tanganku pun dingin tanpa keringat.
"Ayah, aku kedinginan.."
"Pakai jaket ayah saja ya, Nak", tukas ayahku sambil menadahkannya di atas tubuhku.
Suasana menjadi hening. Aku merasa tidak mendengar apa-apa. Dari atas, muncul seketika sesosok makhluk bertubuh tegap yang seperti ingin menjemputku ke suatu tempat.
Ia berkata, "Waktumu sudah tiba. Mari kubawa engkau ke tempat penantian..".
Aku menjawab, "Engkau siapa? Kenapa aku ingin dibawa?"
"Aku utusan langit."
Aku tidak begitu mengerti. "Lalu bagaimana dengan ayahku?"
"Ia sudah memasrahkan dirimu..", jawabnya.
Aku tanya lagi, "Lalu bapak Satpam, Dokter, dan Perawat yang tadi bagaimana? Masa aku tiba-tiba meninggalkan mereka begitu saja.."
"Mereka tengah berjuang mempertahankan nyawa yang lain untuk tidak kubawa.."
"Apa maksudmu?", sergahku.
"Setiap orang punya takdirnya masing-masing. Nasib memilih mereka yang diselamatkan, bukan engkau. Jadi, siapapun harus rela engkau kubawa.."
Aku terdiam termenung. Dalam sekejap ia hilang..
Dan aku seperti terbangun lagi mendengar ayahku histeris.
"Nak, ayo bangun, Nak!! Ayo Nak, sadarlah!..".
"Ayah.."
Tampaknya aku memang sudah kehabisan darah. Kesadaranku menurun. Mataku agak jadi gelap. Tampak samar-samar kulihat seorang yang disebut dokter itu tergesa-gesa menyadarkanku.. Lalu aku tak tahu lagi.
...
Aku mengerti. Kebetulan memang aku sedang tidak beruntung. Akhirnya takdir Tuhanlah yang berkata. Dokter pun yang digadang-gadang seperti "Dewa" pun tidak sanggup melawan-Nya. Mereka sudah terbawa skenario Tuhan untuk menolong yang lainnya. Itulah yang mungkin terbaik untuk mereka lakukan..
"Ayah, jangan salahkan mereka.."
Tangisan rintih terdengar sayup.
Dan aku lah sang bocah itu.
Selasa, 15 Mei 2012
Membangun Kebaikan
Matahari itu berbeda dengan bulan. Laut pun berbeda dengan langit. Meski sama bercahaya, meski sama membiru, tapi asal-usulnya berbeda. Cahaya bulan pantulan matahari, begitupun birunya laut pantulan langit. Meski sama bercahaya, meski sama membiru. Namun apakah orang pernah menyalahkan bulan? Justru karna nya malam jadi terang. Hamparan bumi tak menyepi dalam gelap. Dan apakah laut juga ikut disalahkan? Justru indahnya laut membiru akan mengajak mata kita menikmati ciptaan-Nya yang begitu eksotis. Maka kadang kita merasa minder dalam meniru. Khususnya hal yang baik. Tidak apa-apa. Tanpa harus mengetahui dahulu apa alasannya, kebaikan sekecil apapun tidak ada yang tidak pantas kita tiru selama masih berada dalam koridor atau batasan-batasan yang telah digariskan. Jujur saja, kita adalah makhluk peniru dari apa-apa yang senantiasa kita lihat, disadari maupun tidak. Maka ketrampilan memilah dan mengakuisisi kebaikan ke dalam diri menjadi sangat penting. Sebagai catatan, ketrampilan tersebut agaknya memang bergantung dari sedalam apa wawasan kita tentang kebaikan itu sendiri. Untuk ini, kita mesti belajar. Oleh karena itu, bangunlah kebaikan diri dari meniru contoh yang baik. Ingatlah bahwa Allah menjabarkan kalam-Nya banyak dalam perumpamaan-perumpamaan. Engkau juga tidak akan bisa berdiri sendirian dalam kebaikan. Engkau harus ikut bersujud dengan orang-orang yang juga sedang bersujud. Dan yang terpenting, engkau pun sebenarnya harus juga berada dalam lingkungan kebaikan itu sendiri. Jika tidak, dimanakah engkau akan tercelup? Matahari tidak berseteru dengan bulan. Langit pun tidak. Karena mungkin mereka sedang bersama-sama membangun kebaikan untuk kuasanya. Harmoninya teratur dan konsisten. Mengapa kita tidak? Tetaplah bersemangat membangun kebaikan.
Rabu, 28 Maret 2012
Belajar Keikhlasan Dari Kisah
Keikhlasan, ia unik. Tak hanya mesti ada ketika kita melakukan. Tapi ia pun harus ada ketika kita sedang ada dalam keputusan. Memang bukan tanpa harga yang harus dibayar. Gelak resah pasti ada. Kecewa juga pasti. Kadang putus asa. Bahkan kerat-kerut dahi serta tangisan seolah kadang jadi kompensasi untuk mengelakkan keputusan. Tapi tentunya ada kearifan dalam keikhlasan itu sendiri.
Tak ayal, sering kita berada di sana. Menjadi pelaku, atau penerima. Namun ada kisah unik yang aku catutkan dari sebuah novel. Sepenggal kisah dari novel yang merupakan kisah pemurnian pemikiran dari kesesatan.
Dikisahkan dari novel karya Adian Husaini dengan judul "KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat", seorang pemuda tampan dan sholeh sedang berada dalam misi suci yakni berkonflik dengan pemikiran-pemikiran sesat yang menyerang salah satu sahabatnya di pesanteren dan mengembalikannya pada pemikiran yang lurus. Misi itu berat dilakukannya karna terpaksa terjebak dalam pertaruhan antara ia dan sahabatnya itu. Dalam perjalanannya, pemuda ini bertemu dengan seorang wanita yang juga mengalami kemiripan kisah dengan sahabat pemuda ini. Tanpa tersadar, pemuda ini juga ingin menolong wanita tersebut dari pemikiran-pemikiran sesat. Singkat cerita, wanita itu akhirnya terselamatkan, begitu pula sang sahabat meski akhirnya sahabatnya ini mengalami gangguan dalam kejiwaan. Pada akhir cerita, pemuda ini jatuh hati dan ada niatan untuk menikahi wanita yang telah betobat itu. Belum kesampaian niat itu terlaksana, muncul sebuah pesan dari wanita itu kepada pemuda sholeh ini. Salah satu kutipannya, "Insya Allah, kamu akan menemukan pendamping yang lebih baik dan lebih tepat dari saya.. Kita ikhlaskan hati kita menerima takdir-Nya, Insya Allah akan datang pada kita kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang abadi, di mana hati kita merasa tenang saat mengingat Allah..". Rupanya wanita itu merasa harus menebus dosa-dosanya ketika belum "diselamatkan". Meski hati berkata seperti yang juga dirasakan pemuda ini, akhirnya sang wanita memutuskan agar sama-sama mengikhlaskan untuk tidak bertemu dalam satu ikatan pernikahan. Begitulah ending kisah tersebut.
Ternyata, keikhlasan dalam keputusan tak hanya kita temukan dari organisasi kecil ataupun besar saja. Kedua insan yang sedang dirundung kasmaran ini juga punya kisah yang menjelaskan bagaimana mengartikan keikhlasan. Dan aku, harus belajar dari mereka.
Tak ayal, sering kita berada di sana. Menjadi pelaku, atau penerima. Namun ada kisah unik yang aku catutkan dari sebuah novel. Sepenggal kisah dari novel yang merupakan kisah pemurnian pemikiran dari kesesatan.
Dikisahkan dari novel karya Adian Husaini dengan judul "KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat", seorang pemuda tampan dan sholeh sedang berada dalam misi suci yakni berkonflik dengan pemikiran-pemikiran sesat yang menyerang salah satu sahabatnya di pesanteren dan mengembalikannya pada pemikiran yang lurus. Misi itu berat dilakukannya karna terpaksa terjebak dalam pertaruhan antara ia dan sahabatnya itu. Dalam perjalanannya, pemuda ini bertemu dengan seorang wanita yang juga mengalami kemiripan kisah dengan sahabat pemuda ini. Tanpa tersadar, pemuda ini juga ingin menolong wanita tersebut dari pemikiran-pemikiran sesat. Singkat cerita, wanita itu akhirnya terselamatkan, begitu pula sang sahabat meski akhirnya sahabatnya ini mengalami gangguan dalam kejiwaan. Pada akhir cerita, pemuda ini jatuh hati dan ada niatan untuk menikahi wanita yang telah betobat itu. Belum kesampaian niat itu terlaksana, muncul sebuah pesan dari wanita itu kepada pemuda sholeh ini. Salah satu kutipannya, "Insya Allah, kamu akan menemukan pendamping yang lebih baik dan lebih tepat dari saya.. Kita ikhlaskan hati kita menerima takdir-Nya, Insya Allah akan datang pada kita kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang abadi, di mana hati kita merasa tenang saat mengingat Allah..". Rupanya wanita itu merasa harus menebus dosa-dosanya ketika belum "diselamatkan". Meski hati berkata seperti yang juga dirasakan pemuda ini, akhirnya sang wanita memutuskan agar sama-sama mengikhlaskan untuk tidak bertemu dalam satu ikatan pernikahan. Begitulah ending kisah tersebut.
Ternyata, keikhlasan dalam keputusan tak hanya kita temukan dari organisasi kecil ataupun besar saja. Kedua insan yang sedang dirundung kasmaran ini juga punya kisah yang menjelaskan bagaimana mengartikan keikhlasan. Dan aku, harus belajar dari mereka.
Rabu, 07 Maret 2012
Rasanya Unik, Bukan?
Tak sungguh menggenggam, hilang. Tak berperasa, menyakiti. Terpaku pada satu, keputusan jadi keliru. Terlampau meluas, ekstravagan merebak. Seperti itulah beberapa kejadian sehari-hari bagi penyandang ilmunya kedokteran. Dari sudut ini, sedikitnya menggambarkan bahwa kedokteran merupakan cabang kelimuan yang punya keunikan rasa serta perpaduan indah antara seni dan ilmiah, art and science.
Aku bukanlah pengagum berat kedokteran. Tetapi ada sisi-sisi tertentu yang membuat hingga kini daya tahan kesabaranku ini masih beralasan. Tentunya harus kumiliki hingga seterusnya kelak. Salah satunya mengenai komponen yang kuanggap terpenting dalam ilmu kedokteran ini. Pasien.
Suatu ketika, aku bertemu pasien dengan hipertensi di Puskesmas. Lalu kuterapkan keilmuan yang ada. Semua tentang penyakit hipertensi, penyebabnya, faktor risiko yang selalu kuulangi penjelasn bagaimana memodifikasi faktor-faktor tersebut pada pasien, hingga ke arah komplikasinya sambil sedikit memberikan perumpamaan yang agaknya mengerikan. Busa-busa mulutku justru membuat kering bibir. Pokoknya, isi kepalaku rasanya sudah dikeluarkan segala macam.
Pasien mengangguk. Agaknya mengerti, kataku. Kucoba mengkonfirmasi kembali apa yang telah kujelaskan. Kutanyakan apakah pasien mengerti atau tidak. Jawabnya, tidak!
Rupa-rupanya, yang ingin pasien ketahui bukanlah perihal penyakit yang dideritanya. Pasien hanya ingin tahu, bagaimana caranya mengkomunikasikan kepada anak-anaknya agar mereka terhindar dari penyakit tersebut. Aku keliru.
Anak-anaknya masih kecil. Tentu perlakuannya akan berbeda. Ilmunya kedokteran yang kubanggakan jadi tidak punya harga. Berubahlah peranku menjadi konselor. Bahkan lucunya, kadang yang ditanya tidak lebih mengerti daripada yang bertanya. Jelasnya, karna aku belum memiliki anak. Berperan sebagai komunikan lebih penting ketimbang isi otak yang telah kuisi selama bertahun-tahun. Lebih punya harga.
Begitulah yang kumaksud perpaduan indah. Rasanya begitu unik, bukan?
Aku bukanlah pengagum berat kedokteran. Tetapi ada sisi-sisi tertentu yang membuat hingga kini daya tahan kesabaranku ini masih beralasan. Tentunya harus kumiliki hingga seterusnya kelak. Salah satunya mengenai komponen yang kuanggap terpenting dalam ilmu kedokteran ini. Pasien.
Suatu ketika, aku bertemu pasien dengan hipertensi di Puskesmas. Lalu kuterapkan keilmuan yang ada. Semua tentang penyakit hipertensi, penyebabnya, faktor risiko yang selalu kuulangi penjelasn bagaimana memodifikasi faktor-faktor tersebut pada pasien, hingga ke arah komplikasinya sambil sedikit memberikan perumpamaan yang agaknya mengerikan. Busa-busa mulutku justru membuat kering bibir. Pokoknya, isi kepalaku rasanya sudah dikeluarkan segala macam.
Pasien mengangguk. Agaknya mengerti, kataku. Kucoba mengkonfirmasi kembali apa yang telah kujelaskan. Kutanyakan apakah pasien mengerti atau tidak. Jawabnya, tidak!
Rupa-rupanya, yang ingin pasien ketahui bukanlah perihal penyakit yang dideritanya. Pasien hanya ingin tahu, bagaimana caranya mengkomunikasikan kepada anak-anaknya agar mereka terhindar dari penyakit tersebut. Aku keliru.
Anak-anaknya masih kecil. Tentu perlakuannya akan berbeda. Ilmunya kedokteran yang kubanggakan jadi tidak punya harga. Berubahlah peranku menjadi konselor. Bahkan lucunya, kadang yang ditanya tidak lebih mengerti daripada yang bertanya. Jelasnya, karna aku belum memiliki anak. Berperan sebagai komunikan lebih penting ketimbang isi otak yang telah kuisi selama bertahun-tahun. Lebih punya harga.
Begitulah yang kumaksud perpaduan indah. Rasanya begitu unik, bukan?
Kamis, 01 Maret 2012
Kunci dan Pintu
Hidup adalah kunci. Mati adalah pintu. Sehingga kami berhidup, memiliki pintu yang pasti. Sehingga kami berhidup, memilah-milih kunci yang tepat untuk pintu yang di dalamnya ada sesuatu keindahan yang diangan-angan. Jika tidak, sebaliknya.
Kami semestinya enggan menjadikan kunci yang sedang digenggam ini, rusak akibat lalai. Jadi cacat. Bodoh rasanya menyia-nyiakan. Sebab jelaslah, pintu yang ada sudah menunggu-nunggu. Di depan kami. Bahkan di depan kedua mata kami. Bahkan di dekat urat-urat nadi kami. Bahkan di lekuk-lekuk otak kami. Bahkan di tiap-tiap sela iga kami. Bahkan di dalam rongga dada kami yang begitu sempit. Bahkan di genang-genang darah kami. Begitu dekatnya.
Tak boleh salah! Bisa jadi adalah detik ini. Adalah kunci terakhir bagi kami. Tiada berkesempatan di kemudian waktu. Bergegaslah, perbaiki segera!
Kami semestinya enggan menjadikan kunci yang sedang digenggam ini, rusak akibat lalai. Jadi cacat. Bodoh rasanya menyia-nyiakan. Sebab jelaslah, pintu yang ada sudah menunggu-nunggu. Di depan kami. Bahkan di depan kedua mata kami. Bahkan di dekat urat-urat nadi kami. Bahkan di lekuk-lekuk otak kami. Bahkan di tiap-tiap sela iga kami. Bahkan di dalam rongga dada kami yang begitu sempit. Bahkan di genang-genang darah kami. Begitu dekatnya.
Tak boleh salah! Bisa jadi adalah detik ini. Adalah kunci terakhir bagi kami. Tiada berkesempatan di kemudian waktu. Bergegaslah, perbaiki segera!
Rabu, 22 Februari 2012
Suara Cinta (2)
Setidaknya aku tak mau peduli. Adakah angin yang mengalir lembut itu kuasa merobohkan kokohnya pepohonan. Dan adakah air yang gemericik itu mampu menembus batu karang hingga ke dalam pori-pori terkecilnya. Dan adakah badai yang menari-nari itu seirama menenggelamkan segala kapal hingga karam di hamparan luasnya lautan. Dan adakah langit yang memucat itu menyelimuti bumi yang sedang kering kerontang. Dan adakah suara yang syahdu itu pun dapat membangunkan jiwa-jiwa mati.
Pun segala-galanya terjadi. Biarlah, kuasa Tuhan yang menghendaki. Mereka bertakdir masing-masing. Biarkan.
Dan aku tak begitu mau peduli. Mungkinlah aku tak selembut angin. Tak jua sekuat badai. Karna biarlah juga, ada kuasaku tuk mencintaimu, karna kuasa-Nya. Hingga mungkin takdir-Nya yang menjawab, layak.
Pun segala-galanya terjadi. Biarlah, kuasa Tuhan yang menghendaki. Mereka bertakdir masing-masing. Biarkan.
Dan aku tak begitu mau peduli. Mungkinlah aku tak selembut angin. Tak jua sekuat badai. Karna biarlah juga, ada kuasaku tuk mencintaimu, karna kuasa-Nya. Hingga mungkin takdir-Nya yang menjawab, layak.
Selasa, 21 Februari 2012
Suara Cinta (1)
Kudengar gundahnya hati di dalam rongga dada ini. Yang sedang mengembara dalam lautan bunga-bunga elok. Yang tiada mau berhenti bernyanyi dan mengibas-ngibaskan angin masyuk pada lubuknya. Yang rona nya beragam warna membentuk rangkaian cita rasa. Yang menjadikannya semakin bergelora. Yang katanya, beginilah jiwa yang sedang merindu..
Hening. Berubah menjadi ramai. Seolah-olah. Memang tidak ada siapapun di sana. Tetapi cinta, seperti memberikan kehadiran engkau di sini. Di dalam urat nadi ini. Hingga masuk ke dalam jantung ini dan merasuk ke dalam sela-sela otak ini. Yang katanya, beginilah jiwa yang sedang mencintai..
Cukupkan. Hentikan angan-anganku yang panjang ini. Jika engkau pun bosan tuk menunggui. Aku takut. Setakut aku berharap pada kupu-kupu yang bermimpi kembali menjadi ulat yang busuk. Aku risau pada kemurnian yang diharapkan sejak lama..
Aku mencintaimu. Kelak, aku kan meminangmu. Ketika memang waktunya Dia izinkan..
Hening. Berubah menjadi ramai. Seolah-olah. Memang tidak ada siapapun di sana. Tetapi cinta, seperti memberikan kehadiran engkau di sini. Di dalam urat nadi ini. Hingga masuk ke dalam jantung ini dan merasuk ke dalam sela-sela otak ini. Yang katanya, beginilah jiwa yang sedang mencintai..
Cukupkan. Hentikan angan-anganku yang panjang ini. Jika engkau pun bosan tuk menunggui. Aku takut. Setakut aku berharap pada kupu-kupu yang bermimpi kembali menjadi ulat yang busuk. Aku risau pada kemurnian yang diharapkan sejak lama..
Aku mencintaimu. Kelak, aku kan meminangmu. Ketika memang waktunya Dia izinkan..
Rabu, 15 Februari 2012
Benar, Dia adalah Pahlawan.
Kisah heroik tidaklah mesti digambarkan dengan jubah-jubah perang, pedang yang terhunus tajam, ataupun kuda-kuda kesatria nan gagah. Seorang ibu, adalah tokoh yang paling dapat menggambarkan siapa yang paling heroik di dunia.
Kujumpai seorang ibu, menceritakan sepenggal kisah yang meyakinkanku akan pernyataanku sebelumnya. Dahulu ketika sang ibu mengandung, tenaga medis yang terlibat saat itu telah memberikan pernyataan yang begitu mengejutkan. Betapa tidak, janin yang sedang dikandungnya divonis cacat! Disebut dengan Osteogenesis Imperfecta, suatu keadaan dimana seluruh tulang tidak terbentuk sempurna pada komponenenya sehingga rentan mengalami patah. Dalam penjabarannya, kondisi ini akan terus menetap hingga sepanjang hayat. Hingga sempat terlintas rencana untuk mengakhiri kehidupan janin cacat itu. Sungguh dilematis memang, mempertahankannya memiliki resiko yang begitu jelas amat berat kelak. Mengakhirinya, tidak manusiawi.
Salut! Sang ibu memilih untuk mempertahankannya. Keputusan ini begitu berani! Konsekuensinya sudah pasti berat.
Terbukti. Sang anak kini beranjak 17 tahun. Sejak lahir hingga sekarang, sang anak sudah pernah mengalami patah tulang sebanyak 13 kali. Bahkan suatu ketika anak tersebut sedang membungkuk, tiba-tiba tulang paha nya patah. Begitu rapuhnya. Lalu apakah sang ibu menyesal? Sama sekali, tidak.
Sang ibu mengakui tidak ada yang mampu ia abaikan demi anaknya. Meski keadaan mengharuskan seperti itu. Oleh karenanya sang ibu selalu rela merujuk ke dokter bedah tulang setiap kali patah tulang terjadi. Bukan ke dukun tulang.
Ternyata cintanya ibu yang mendorong memberikan yang terbaik untuk buah hatinya itu. Ternyata cintanya ibu yang melahirkan sikap heroik. Dan aku semakin yakin, seorang ibu, nyatanya adalah seorang pahlawan. Benar, dia adalah pahlawan.
_Ahmad Meiyanto_
Kujumpai seorang ibu, menceritakan sepenggal kisah yang meyakinkanku akan pernyataanku sebelumnya. Dahulu ketika sang ibu mengandung, tenaga medis yang terlibat saat itu telah memberikan pernyataan yang begitu mengejutkan. Betapa tidak, janin yang sedang dikandungnya divonis cacat! Disebut dengan Osteogenesis Imperfecta, suatu keadaan dimana seluruh tulang tidak terbentuk sempurna pada komponenenya sehingga rentan mengalami patah. Dalam penjabarannya, kondisi ini akan terus menetap hingga sepanjang hayat. Hingga sempat terlintas rencana untuk mengakhiri kehidupan janin cacat itu. Sungguh dilematis memang, mempertahankannya memiliki resiko yang begitu jelas amat berat kelak. Mengakhirinya, tidak manusiawi.
Salut! Sang ibu memilih untuk mempertahankannya. Keputusan ini begitu berani! Konsekuensinya sudah pasti berat.
Terbukti. Sang anak kini beranjak 17 tahun. Sejak lahir hingga sekarang, sang anak sudah pernah mengalami patah tulang sebanyak 13 kali. Bahkan suatu ketika anak tersebut sedang membungkuk, tiba-tiba tulang paha nya patah. Begitu rapuhnya. Lalu apakah sang ibu menyesal? Sama sekali, tidak.
Sang ibu mengakui tidak ada yang mampu ia abaikan demi anaknya. Meski keadaan mengharuskan seperti itu. Oleh karenanya sang ibu selalu rela merujuk ke dokter bedah tulang setiap kali patah tulang terjadi. Bukan ke dukun tulang.
Ternyata cintanya ibu yang mendorong memberikan yang terbaik untuk buah hatinya itu. Ternyata cintanya ibu yang melahirkan sikap heroik. Dan aku semakin yakin, seorang ibu, nyatanya adalah seorang pahlawan. Benar, dia adalah pahlawan.
_Ahmad Meiyanto_
Selasa, 14 Februari 2012
Para Idealist
Alangkah anehnya diri kita. Seringkali malah menyalahkan mereka yang disebut realita. Dengan idealisme yang sudah digenggamnya sejak dahulu, maka setiap realita seolah dibenturkan. Beginilah bentuk kokohnya idealisme, katanya.
Baiklah, ada yang ingin aku tanyakan. Apakah pada setiap kejadian yang sudah, sedang, dan akan terlewat, adalah rentetan peristiwa tanpa skenario? Ataukah begini, beberapa kejadian adalah sesuatu yang tidak pernah sama sekali menyentuh kesengajaan, atau yang sering disebut dengan istilah kebetulan? Atau ada yang menyebut dengan istilah black swan?
Jika mengiyakan setiap kalimat tanya di atas, mungkin manusia merasa tidak perlu merencanakan sesuatu hal apapun. Toh setiap kejadian itu adalah kebetulan. Anda pasti tidak setuju.
Setiap kejadian, atau realita yang ada, adalah skenario. Allah yang merancang. Tetapi masalahnya adalah hal tersebut bukanlah area yang mesti kita ketahui. Sekali lagi, ini bukan area kita untuk ketahui. Sebabnya jelas, karena pengetahuan kita amat terbatas. Sehingga kata prediksi itu menggambarkan kejadian yang mungkin terjadi, tanpa pasti.
Oleh karena itu, sangat aneh jika kita selalu mengeluh dengan tiap realita yang ada. Mungkin saja, ada yang belum dipahami dari idealisme yang katanya sudah terpegang sejak lama. Sesungguhnya, istilah kokoh dalam idealisme itu adalah pada fundamentasinya, bukan pada implementasi. Dan dinamika yang terjadi, realita yang ada, adalah skenario Allah yang banyak tidak kita ketahui dari setiap alasan kejadian tersebut hingga bentuk yang akan terjadi kemudian.
Allah sebutkan, manusialah yang buat dirinya sendiri terzolimi. Maka ketika realita yang ada adalah banyak yang terzolimi, begitulah ketetapan-Nya. Termasuk pada skenario-Nya.
Sehingga jelas, realita bukan untuk dibenturkan. Tetapi dibenarkan. Dengan idealisme yang ada. Dengan melenturkan implementasi dari idealisme itu. Siapa tahu, begitulah skenario Allah untuk menguji para idealist.
Baiklah, ada yang ingin aku tanyakan. Apakah pada setiap kejadian yang sudah, sedang, dan akan terlewat, adalah rentetan peristiwa tanpa skenario? Ataukah begini, beberapa kejadian adalah sesuatu yang tidak pernah sama sekali menyentuh kesengajaan, atau yang sering disebut dengan istilah kebetulan? Atau ada yang menyebut dengan istilah black swan?
Jika mengiyakan setiap kalimat tanya di atas, mungkin manusia merasa tidak perlu merencanakan sesuatu hal apapun. Toh setiap kejadian itu adalah kebetulan. Anda pasti tidak setuju.
Setiap kejadian, atau realita yang ada, adalah skenario. Allah yang merancang. Tetapi masalahnya adalah hal tersebut bukanlah area yang mesti kita ketahui. Sekali lagi, ini bukan area kita untuk ketahui. Sebabnya jelas, karena pengetahuan kita amat terbatas. Sehingga kata prediksi itu menggambarkan kejadian yang mungkin terjadi, tanpa pasti.
Oleh karena itu, sangat aneh jika kita selalu mengeluh dengan tiap realita yang ada. Mungkin saja, ada yang belum dipahami dari idealisme yang katanya sudah terpegang sejak lama. Sesungguhnya, istilah kokoh dalam idealisme itu adalah pada fundamentasinya, bukan pada implementasi. Dan dinamika yang terjadi, realita yang ada, adalah skenario Allah yang banyak tidak kita ketahui dari setiap alasan kejadian tersebut hingga bentuk yang akan terjadi kemudian.
Allah sebutkan, manusialah yang buat dirinya sendiri terzolimi. Maka ketika realita yang ada adalah banyak yang terzolimi, begitulah ketetapan-Nya. Termasuk pada skenario-Nya.
Sehingga jelas, realita bukan untuk dibenturkan. Tetapi dibenarkan. Dengan idealisme yang ada. Dengan melenturkan implementasi dari idealisme itu. Siapa tahu, begitulah skenario Allah untuk menguji para idealist.
Selasa, 07 Februari 2012
Sabar Saja
Sebenarnya aku agak tergelitik. Kisahku, mungkin beberapa dari rekan sejawatku mengalami. Kutuliskan ini bukan untuk membeberkan rahasia seorang pasien karena tidak kusebutkan nama ataupun identitas yang lain, begitupun waktu kejadian.
Ketika aku sedang jaga dalam IGD di sebuah Rumah Sakit, kudapati pasien yang baru datang dirujuk dari Rumah Sakit di suatu daerah akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak luka terukir pada tubuhnya yang terbaring dan mengalir banyak darah darinya. Kesadarannya pun terlihat menurun. Diputuskan untuk dilakukan tindakan pertolongan segera agar pasien tersebut tidak jatuh dalam keadaan yang lebih buruk.
Syukurku, ia beruntung. Tuhan masih berikan nyawa yang terbenam dalam raga nya. Pasien tersebut masih selamat. Respon tubuhnya cepat, meski kemudian mesti tetap dalam observasi kami saat itu.
Setelah kondisinya terlihat stabil, diputuskan untuk menutup luka-luka yang ada dengan jahitan, agar perdarahan yang ada berhenti. Kulakukan. Dengan persetujuan.
Ya, ada sedikit keanehan. Pasien ini kuduga dalam pengaruh obat (DPO). Atau istilahnya, ia sedang mabuk. Hecting, terpaksa tetap kulakukan. Agak paternalistik, memang.
Awalnya, ia hanya memberontak. Lama kelamaan, sepertinya marahnya menjadi-jadi. Rentetan kata-kata kotor diucapkannya tepat padaku! Berkali-kali. Dan berlangsung selama proses itu berlangsung.
Sambil menghirup sisa bau alkohol semerbak dari mulutnya, tetap kulanjutkan "usahaku". Ah, ternyata harus kutahan lebih lama dari yang kubayangkan. Kata-kata kotornya masih akan merasuk kupingku, sebelum tugas ini selesai.
Nasibku? memang. Dan sekali lagi, mungkin kan terulang pada korban lainnya. Ngerinya membayangkan hal yang lebih buruk dari ini. Nasib kami? memang.
Sabar saja.
Ketika aku sedang jaga dalam IGD di sebuah Rumah Sakit, kudapati pasien yang baru datang dirujuk dari Rumah Sakit di suatu daerah akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak luka terukir pada tubuhnya yang terbaring dan mengalir banyak darah darinya. Kesadarannya pun terlihat menurun. Diputuskan untuk dilakukan tindakan pertolongan segera agar pasien tersebut tidak jatuh dalam keadaan yang lebih buruk.
Syukurku, ia beruntung. Tuhan masih berikan nyawa yang terbenam dalam raga nya. Pasien tersebut masih selamat. Respon tubuhnya cepat, meski kemudian mesti tetap dalam observasi kami saat itu.
Setelah kondisinya terlihat stabil, diputuskan untuk menutup luka-luka yang ada dengan jahitan, agar perdarahan yang ada berhenti. Kulakukan. Dengan persetujuan.
Ya, ada sedikit keanehan. Pasien ini kuduga dalam pengaruh obat (DPO). Atau istilahnya, ia sedang mabuk. Hecting, terpaksa tetap kulakukan. Agak paternalistik, memang.
Awalnya, ia hanya memberontak. Lama kelamaan, sepertinya marahnya menjadi-jadi. Rentetan kata-kata kotor diucapkannya tepat padaku! Berkali-kali. Dan berlangsung selama proses itu berlangsung.
Sambil menghirup sisa bau alkohol semerbak dari mulutnya, tetap kulanjutkan "usahaku". Ah, ternyata harus kutahan lebih lama dari yang kubayangkan. Kata-kata kotornya masih akan merasuk kupingku, sebelum tugas ini selesai.
Nasibku? memang. Dan sekali lagi, mungkin kan terulang pada korban lainnya. Ngerinya membayangkan hal yang lebih buruk dari ini. Nasib kami? memang.
Sabar saja.
Rabu, 23 November 2011
Anak Buta
Cobalah engkau lakukan..
Berdirilah! Lalu pandanglah jendela kamarmu di pagi hari ketika matahari telah keluar dari persembunyiannya. Rasakan sedikit hangatnya mentari mendekap tubuhmu. Kemudian tutup kedua bola matamu. Gerakkan tanganmu ke depan wajahmu sendiri. Lambaikan ke kanan dan ke kiri. Ke atas dan ke bawah. Apa yang bisa kau lihat? Hanya bayang-bayang yang bergerak-bergerak kesana kemari?
Begitulah keadaan kita sewaktu lahir. Jika dahulu kita dapat berbicara jelas, maka pasti kita kan menjerit. Kita tak mampu melihat! Namun Tuhan begitu adilnya. Tidak ada bayi lahir yang sekonyong-konyong mampu berfikir dan berbicara, bahkan berjalan dan bermain riang. Bayi akan alami proses tumbuh dan berkembang. Begitupun kedua mata ini. Mereka berkembang hingga usia menginjak 6 tahun. Mata normal kita kini tidak akan menjelma seperti ini tanpa melewati proses itu. Bersyukurlah kawan. Akui, kita semua terlahir sebagai anak buta!
*Terinspirasi oleh salah satu dokter spesialis mata Bandung.
Berdirilah! Lalu pandanglah jendela kamarmu di pagi hari ketika matahari telah keluar dari persembunyiannya. Rasakan sedikit hangatnya mentari mendekap tubuhmu. Kemudian tutup kedua bola matamu. Gerakkan tanganmu ke depan wajahmu sendiri. Lambaikan ke kanan dan ke kiri. Ke atas dan ke bawah. Apa yang bisa kau lihat? Hanya bayang-bayang yang bergerak-bergerak kesana kemari?
Begitulah keadaan kita sewaktu lahir. Jika dahulu kita dapat berbicara jelas, maka pasti kita kan menjerit. Kita tak mampu melihat! Namun Tuhan begitu adilnya. Tidak ada bayi lahir yang sekonyong-konyong mampu berfikir dan berbicara, bahkan berjalan dan bermain riang. Bayi akan alami proses tumbuh dan berkembang. Begitupun kedua mata ini. Mereka berkembang hingga usia menginjak 6 tahun. Mata normal kita kini tidak akan menjelma seperti ini tanpa melewati proses itu. Bersyukurlah kawan. Akui, kita semua terlahir sebagai anak buta!
*Terinspirasi oleh salah satu dokter spesialis mata Bandung.
Cerita Kecil dari Santolo
Siang itu, hampir penuh dengan keringat. Berlalu-lalang orang-orang di depanku. Sambil membawa secarik kertas kecil, mereka juga sedang menunggu gilirannya masing-masing. Ada nenek-nenek tua dengan membawa serta anak dan cucunya. Ada pula bapak-bapak yang terlihat amat sulit berjalan tanpa dipapah. Tak jarang tangisan anak kecil mengiringi riuh suasana kala itu. Begitu ramainya hingga beberapa warga di sana ikut membantu untuk mengkondisikan ketertiban balai pengobatan yang digelar oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dari universitas yang berbeda tersebut.
Kuakui sangat lelah rasanya. Penatnya begitu merasuk ke kepala. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku keluar dari ruangan sambil melepaskan serat-serat ototku yang sedang berketemukan. Kujumpai seorang ibu menggendong anaknya seusia 1 tahun menurutku. Lalu aku bertanya basa-basi, "Ibu, ini anaknya berapa tahun usianya?". Ibu itu menjawab, "2,5 tahun cep." Aku sedikit tergelak. Anak dengan usia itu belum berjalan sendiri, dan terlihat pendiam. Kemudian kutanya kembali, "Ibu sudah diperiksa di dalam?" dan sang ibu menjawab, "Oh. Belum cep. Da ini anak saya yang mau diperiksa." Kutanya balik, "Memangnya kenapa Bu dengan anaknya?" Ibu itu menjawab lagi, "Iya cep, ini teh anak saya kan udah 2 tahun lebih, tapi ya begini kondisinya. Itu coba lihat cep, ada yang nonjol kan di punggung nya?" Sambil memperhatikan punggung yang ditunjuk, aku mengiyakan. Lalu Ibu tersebut bertanya balik,"Ibu tuh mau tahu aja sebenarnya, klo seperti ini tuh bisa disembuhkan gak ya?".
Aku henyak sejenak.
Diriku memiliki diagnosis banding tersendiri pada anak ini. Spina bifida dengan paralysis nervus spinalis segmen lumbal. Setidaknya hal itu yang menjadi berat untuk mengatakan faktanya kepada sang ibu bahwa anaknya memiliki kelainan bawaan cukup berat yang membuatnya tidak dapat berjalan. Apalagi jika harus katakan juga bahwa kemungkinan anak pada kehamilan berikutnya memiliki resiko terjadinya hal serupa. Dan jikalau dioperasi kelak, sungguh tidaklah mudah untuk menjangkaunya. Benar-benar tak tahu aku harus berkata apa.
Sungguh beginilah kejiwaan sosialku diketuk. Ibu tersebut berasal dari daerah dengan sosioekonomi yang minim yang bahkan untuk menuju ke daerah keramaian saja dibutuhkan waktu 2 jam dengan melewati terjal tebing serta hutan dan jalan berbatu. Selain itupun, daerah ini berada sekitar 6-7 jam dari kota bandung. Bayangkan, apabila kusarankan anak tersebut untuk dilakukan operasi di RSHS, kurasa itu benar-benar konyol. Beliau jelas membutuhkan uluran bantuan. Tapi hingga saat aku menulis ini pun, aku tak tahu bagaimana caranya.
Sobat, kita dengan mereka adalah sama. Sama-sama memiliki hak untuk berbahagia dengan kualitas hidup yang baik. Sebagian bisa berkata, itu nasib. Tetapi aku pun bisa sampaikan, nasib kita juga yang seharusnya ditugaskan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan dan kompetensi kita masing-masing. Dan mereka adalah bagian dari masyarakat itu.
*Cerita kecil dari desa Tipar, kec.Pameungpeuk, Garut. Mungkin, tidak ada yang melihatnya ketika itu.
itu ceritaku.. apa ceritamu?
Kuakui sangat lelah rasanya. Penatnya begitu merasuk ke kepala. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku keluar dari ruangan sambil melepaskan serat-serat ototku yang sedang berketemukan. Kujumpai seorang ibu menggendong anaknya seusia 1 tahun menurutku. Lalu aku bertanya basa-basi, "Ibu, ini anaknya berapa tahun usianya?". Ibu itu menjawab, "2,5 tahun cep." Aku sedikit tergelak. Anak dengan usia itu belum berjalan sendiri, dan terlihat pendiam. Kemudian kutanya kembali, "Ibu sudah diperiksa di dalam?" dan sang ibu menjawab, "Oh. Belum cep. Da ini anak saya yang mau diperiksa." Kutanya balik, "Memangnya kenapa Bu dengan anaknya?" Ibu itu menjawab lagi, "Iya cep, ini teh anak saya kan udah 2 tahun lebih, tapi ya begini kondisinya. Itu coba lihat cep, ada yang nonjol kan di punggung nya?" Sambil memperhatikan punggung yang ditunjuk, aku mengiyakan. Lalu Ibu tersebut bertanya balik,"Ibu tuh mau tahu aja sebenarnya, klo seperti ini tuh bisa disembuhkan gak ya?".
Aku henyak sejenak.
Diriku memiliki diagnosis banding tersendiri pada anak ini. Spina bifida dengan paralysis nervus spinalis segmen lumbal. Setidaknya hal itu yang menjadi berat untuk mengatakan faktanya kepada sang ibu bahwa anaknya memiliki kelainan bawaan cukup berat yang membuatnya tidak dapat berjalan. Apalagi jika harus katakan juga bahwa kemungkinan anak pada kehamilan berikutnya memiliki resiko terjadinya hal serupa. Dan jikalau dioperasi kelak, sungguh tidaklah mudah untuk menjangkaunya. Benar-benar tak tahu aku harus berkata apa.
Sungguh beginilah kejiwaan sosialku diketuk. Ibu tersebut berasal dari daerah dengan sosioekonomi yang minim yang bahkan untuk menuju ke daerah keramaian saja dibutuhkan waktu 2 jam dengan melewati terjal tebing serta hutan dan jalan berbatu. Selain itupun, daerah ini berada sekitar 6-7 jam dari kota bandung. Bayangkan, apabila kusarankan anak tersebut untuk dilakukan operasi di RSHS, kurasa itu benar-benar konyol. Beliau jelas membutuhkan uluran bantuan. Tapi hingga saat aku menulis ini pun, aku tak tahu bagaimana caranya.
Sobat, kita dengan mereka adalah sama. Sama-sama memiliki hak untuk berbahagia dengan kualitas hidup yang baik. Sebagian bisa berkata, itu nasib. Tetapi aku pun bisa sampaikan, nasib kita juga yang seharusnya ditugaskan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan dan kompetensi kita masing-masing. Dan mereka adalah bagian dari masyarakat itu.
*Cerita kecil dari desa Tipar, kec.Pameungpeuk, Garut. Mungkin, tidak ada yang melihatnya ketika itu.
itu ceritaku.. apa ceritamu?
Kamis, 03 November 2011
Orang Asing
Tidakkah dirimu merasa jengah? Kau tahu, kini kau dibuang. Seolah kau tidak punya tempat lagi di selimut bumi ini. Dirimu tenggelam dalam anggapan benak-benak yang kotor. Kau bagai sampah bernyawa. Dibuang, dan kembali lagi. Diinjak, dan lagi-lagi kembali. Isi kepalamu seperti tidak punya logika. Kau juga tahu, tubuhmu lemah seperti arang. Tetapi lagi-lagi kembali. Lagi-lagi.
Tidakkah dirimu merasa malu? Kau tahu, kau berbeda. Tingkahmu asing. Pikirmu aneh. Kau tahu, kau selalu dianggap bodoh dan kaku. Jika orang jadi sepertimu, pasti jatuh miskin. Begitu orang pikir. Tapi lagi-lagi kau kembali. Lagi-lagi.
Aku tak mengerti seberapa hebat kau. Aku tak peduli itu. Aku hanya mau tahu alasan. Mengapa kau mampu bertahan.
Tidakkah dirimu merasa malu? Kau tahu, kau berbeda. Tingkahmu asing. Pikirmu aneh. Kau tahu, kau selalu dianggap bodoh dan kaku. Jika orang jadi sepertimu, pasti jatuh miskin. Begitu orang pikir. Tapi lagi-lagi kau kembali. Lagi-lagi.
Aku tak mengerti seberapa hebat kau. Aku tak peduli itu. Aku hanya mau tahu alasan. Mengapa kau mampu bertahan.
Kamis, 01 September 2011
Dosa Yang Terabaikan
Pagi-pagi matahari belum menyapa. Dinginnya mendekap tubuh yang masih malas beranjak dari tempat aku bermimpi. Terdengar gema takbir yang memang tiada henti berkumandang semalaman dari pengeras suara masjid di dekat rumah. Kudirikan sholat subuh dan dilanjutkan sholat ied ketika waktu dhuha akan tiba.
Tepat pukul 7, kami memulai sholat. Tempatnya begitu ramai karna masjid ini menjadi satu dari beberapa masjid yang menyelenggarakan sholat ied pada hari itu. Maklum, kami berlebaran pada hari yang berbeda dengan kebanyakan. Berbeda, tetapi tidak masalah. Toh masih sama-sama telah laksanakan puasa Ramadhan.
Setelah sholat, kulihat beberapa orang berdiri dan mengambil seonggoh kain. Aku sedikit tak sadar apa yang akan mereka lakukan. Seketika mereka berjalan berkeliling mengitari jamaah. Ternyata mereka sedang edarkan kotak amal. Hingga sadar, ternyata aku tak membawa uang sepeserpun.
Sebenarnya ini hal yang sepele. Ternyata bagiku tidak. Dahulu aku amat terbiasa menyisihkan uang untuk berinfak setiap hari. Kusiasati dengan menyediakan kotak khusus di dalam kamar untuk aku berinfak dan bila telah penuh maka kuberikan kepada sebuah yayasan amal. Anehnya, sungguh bahagia setiap kali melihat kotak itu penuh. Padahal tahu bahwa itu bukanlah tabungan pribadi.
Namun bulan terakhir ini, aku tidak lagi menyiapkan kotak itu. Mulanya aku masih ingat untuk berinfak setiap hari di berbagai kesempatan. Namun akhirnya aku sering lupa. Bahkan sempat tidak pernah sama sekali dalam beberapa minggu. Sekali lagi, bagiku ini bukan hal sepele. Aku sudah tidak terbiasa berbuat kebaikan walaupun hanya sekedar berinfak.
Abdullah bin Mas'ud r.a. pernah berkata, "Biasakan berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan." Kini aku mengerti, jangan pernah tinggalkan kebiasaan baik. Karena sebaliknya, kebiasaan buruklah yang akan memenuhi aktivitas-aktivitas kita. Na'udzubillah.
Tepat pukul 7, kami memulai sholat. Tempatnya begitu ramai karna masjid ini menjadi satu dari beberapa masjid yang menyelenggarakan sholat ied pada hari itu. Maklum, kami berlebaran pada hari yang berbeda dengan kebanyakan. Berbeda, tetapi tidak masalah. Toh masih sama-sama telah laksanakan puasa Ramadhan.
Setelah sholat, kulihat beberapa orang berdiri dan mengambil seonggoh kain. Aku sedikit tak sadar apa yang akan mereka lakukan. Seketika mereka berjalan berkeliling mengitari jamaah. Ternyata mereka sedang edarkan kotak amal. Hingga sadar, ternyata aku tak membawa uang sepeserpun.
Sebenarnya ini hal yang sepele. Ternyata bagiku tidak. Dahulu aku amat terbiasa menyisihkan uang untuk berinfak setiap hari. Kusiasati dengan menyediakan kotak khusus di dalam kamar untuk aku berinfak dan bila telah penuh maka kuberikan kepada sebuah yayasan amal. Anehnya, sungguh bahagia setiap kali melihat kotak itu penuh. Padahal tahu bahwa itu bukanlah tabungan pribadi.
Namun bulan terakhir ini, aku tidak lagi menyiapkan kotak itu. Mulanya aku masih ingat untuk berinfak setiap hari di berbagai kesempatan. Namun akhirnya aku sering lupa. Bahkan sempat tidak pernah sama sekali dalam beberapa minggu. Sekali lagi, bagiku ini bukan hal sepele. Aku sudah tidak terbiasa berbuat kebaikan walaupun hanya sekedar berinfak.
Abdullah bin Mas'ud r.a. pernah berkata, "Biasakan berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan." Kini aku mengerti, jangan pernah tinggalkan kebiasaan baik. Karena sebaliknya, kebiasaan buruklah yang akan memenuhi aktivitas-aktivitas kita. Na'udzubillah.
Minggu, 19 Juni 2011
Ma'iyyatullah
Bola mataku terlalu kecil tuk melihat anggun-Mu. Telingaku pun hanya dua. Hanya bisa berprasangka atas keindahan kata-Mu. Otakku yang tersimpan rapat dalam kepala cuma sekedar menjalani kehendak-Mu. Inilah batasku. Engkau yang kuasa.
Aku tak pernah bisa melihat masa depan. Sekali lagi, aku hanya berprasangka. Demi mengobati jiwa yang lemah, aku jadi gila. Sayang, lagi-lagi gagal. Padahal yang kecil suatu saat jadi besar. Sayang, lagi-lagi keliru.
Maka nasib Allah yang tentukan. Tapi manusia gerakkan tubuhnya. Tidak sendiri. Manusia dan Allah, akan jadi kombinasi yang indah. Ma'iyyatullah.
Aku tak pernah bisa melihat masa depan. Sekali lagi, aku hanya berprasangka. Demi mengobati jiwa yang lemah, aku jadi gila. Sayang, lagi-lagi gagal. Padahal yang kecil suatu saat jadi besar. Sayang, lagi-lagi keliru.
Maka nasib Allah yang tentukan. Tapi manusia gerakkan tubuhnya. Tidak sendiri. Manusia dan Allah, akan jadi kombinasi yang indah. Ma'iyyatullah.
Selasa, 10 Mei 2011
Mencari Kejujuran?
Kebanyakan mencari-cari orang jujur. Tidak aneh. Anggapannya, mungkin kini jarang. Tetapi menggelikan. Mengapa tidak dicari dahulu dalam dirinya masing-masing?
Ini jadi trend. Perilaku tidak sehat secara mental ini telah mengakar bikar. Bahkan konyol. Yang terbiasa "polos" malah dianggap "sok suci". Entah sengaja atu tidak, tetapi pendusta memang cenderung lega ketika individu lainnya bersama-sama dengannya mengalirkan dusta yang tak berujung. Apakah itu kerelaan? Atau kepuasan?
Ini jadi trend. Perilaku tidak sehat secara mental ini telah mengakar bikar. Bahkan konyol. Yang terbiasa "polos" malah dianggap "sok suci". Entah sengaja atu tidak, tetapi pendusta memang cenderung lega ketika individu lainnya bersama-sama dengannya mengalirkan dusta yang tak berujung. Apakah itu kerelaan? Atau kepuasan?
Selasa, 19 April 2011
Ini etika Bung!
Memegang keramahan kata-kata yang mengalir terucap memang bukan hal mudah. Tahan! Tapi ini etika Bung!
Manusia dianugrahkan emosi yang begitu luar biasanya mampu mengendalikan gerak geriknya. Dia bermain bagai air. Ketika mendidih, meluap-luap. Kala membeku, jadi hening. Meski otak lihai berbicara, namun emosi kadang jadi pahlawan. Begitulah fungsi emosi. Menembus batas-batas keputusasaan otak dalam menyelesaikan masalah yang terlihat mustahil. Memang ajaib.
Tapi tunggu dulu bung! Anda tidak dapat jadikan ini sebagai alasan 'tuk jadikan emosi sebagai garda terdepan dalam hal apapun. Otak dan emosi bukan lawan. Mereka teman. Mereka kawan dalam kebersamaan. Mereka menyempurnakan. Bukan satu membunuh yang lainnya!
Begitu juga dengan mulut! Dia adalah pintu keluar mereka. Jika emosi yang keluar lebih dulu, maka hasilnya jadi emosional. Jika otak yang keluar lebih dulu, maka bisa tak manusiawi. Tapi lihat! Jika keduanya keluar bersama-sama, alunannya mengalir indah. Jadi bernyawa, namun manusiawi dan cerdas!
Begitupun kepala ini! Sangat tak berkenan dengan kata-kata menjijikkan yang terpaksa masuk ke liang telinga yang juga muak dengan kekotorannya! Dimanakah letak kesantunan itu? Sudah terlanjur dibuang jauh kah? Atau engkau sudah bunuh otak itu?
"Mereka adalah yang berzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring dan berpikir pada penciptaan langit dan bumi.." Ali Imron 191
Allah SWT telah ajarkan ini kepada insan. Orang berakal sehat adalah yang gunakan aktivitas hati dan otak nya bersama-sama. Tutur kata yang tidak waras, mungkin sudah mampu engkau tebak asalnya!
Mari sama-sama belajar kembali apakah isi diri kita ini sudah pantas untuk diserahkan kepada-Nya kelak.
Manusia dianugrahkan emosi yang begitu luar biasanya mampu mengendalikan gerak geriknya. Dia bermain bagai air. Ketika mendidih, meluap-luap. Kala membeku, jadi hening. Meski otak lihai berbicara, namun emosi kadang jadi pahlawan. Begitulah fungsi emosi. Menembus batas-batas keputusasaan otak dalam menyelesaikan masalah yang terlihat mustahil. Memang ajaib.
Tapi tunggu dulu bung! Anda tidak dapat jadikan ini sebagai alasan 'tuk jadikan emosi sebagai garda terdepan dalam hal apapun. Otak dan emosi bukan lawan. Mereka teman. Mereka kawan dalam kebersamaan. Mereka menyempurnakan. Bukan satu membunuh yang lainnya!
Begitu juga dengan mulut! Dia adalah pintu keluar mereka. Jika emosi yang keluar lebih dulu, maka hasilnya jadi emosional. Jika otak yang keluar lebih dulu, maka bisa tak manusiawi. Tapi lihat! Jika keduanya keluar bersama-sama, alunannya mengalir indah. Jadi bernyawa, namun manusiawi dan cerdas!
Begitupun kepala ini! Sangat tak berkenan dengan kata-kata menjijikkan yang terpaksa masuk ke liang telinga yang juga muak dengan kekotorannya! Dimanakah letak kesantunan itu? Sudah terlanjur dibuang jauh kah? Atau engkau sudah bunuh otak itu?
"Mereka adalah yang berzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring dan berpikir pada penciptaan langit dan bumi.." Ali Imron 191
Allah SWT telah ajarkan ini kepada insan. Orang berakal sehat adalah yang gunakan aktivitas hati dan otak nya bersama-sama. Tutur kata yang tidak waras, mungkin sudah mampu engkau tebak asalnya!
Mari sama-sama belajar kembali apakah isi diri kita ini sudah pantas untuk diserahkan kepada-Nya kelak.
Jumat, 01 April 2011
Istiqomah
Kepada akar yang terus menghujam.
Kepada langit yang kokoh tanpa runtuh.
Kepada embun yang setia membasahi bumi.
Kepada sungai yang jemarinya menjalar ke laut.
Tetaplah begitu.
Hingga masa ketika engkau telah usai dengan tugas-tugas mulia.
Tapi nasibmu memang begitu.
Karena engkau adalah pilihan Tuhan.
Engkau pikir mungkin jadi sampah.
Engkau pun pikir jadi ilalang.
Yang diinjak-injak kezhaliman
dan kemunafikan
di sekitar jalan kesucian.
Namun janganlah engkau khawatir. Tuhan Maha Memberi Perhitungan.
Kepada langit yang kokoh tanpa runtuh.
Kepada embun yang setia membasahi bumi.
Kepada sungai yang jemarinya menjalar ke laut.
Tetaplah begitu.
Hingga masa ketika engkau telah usai dengan tugas-tugas mulia.
Tapi nasibmu memang begitu.
Karena engkau adalah pilihan Tuhan.
Engkau pikir mungkin jadi sampah.
Engkau pun pikir jadi ilalang.
Yang diinjak-injak kezhaliman
dan kemunafikan
di sekitar jalan kesucian.
Namun janganlah engkau khawatir. Tuhan Maha Memberi Perhitungan.
Sabtu, 12 Maret 2011
Aku Iri.
Begitulah manusia ini menjaga dan memelihara asa kesyukuran pada Tuhannya. Keringatnya kerap mengalir. Melabuhkan diri pada tempat dimana kakinya berpijak. Mereka tuli? tidak. Mereka bahkan memanen cacian dari orang yang suka melempar caci. Lalu apakah mereka buta? sama sekali tidak. Terang-terangan orang di sekitarnya membunuh nurani suci melekat dalam dada. Ah. Merekalah yang selalu memiliki momentum dalam hidupnya. Begitulah asa kesyukuran pada Tuhannya.
Hidup. Kaki mereka. Tangan mereka. Telinga mereka. Mulut mereka. Pikiran mereka. Hati mereka. Semangat mereka. Semua hidup tanpa bayang keraguan. Itulah jati diri. Kuat mencengkerama. Langkah mereka menjulang tinggi. Padahal tak ada sayap. Itu bukan angan-angan kosong.
Tak sadar aku telah iri. Pada mereka yang tulangnya tahan banting. Yang kepalanya tertunduk bukan lesu. Melainkan pandangan yang tak terundang maksiat. Yang wajahnya merekah bagai bunga merona. Tebaran senyum bukan sekedar pesona. Yang tangannya berurat, tapi lembut. Yang kedua kakinya kian bengkak karena enggan kenal henti. Yang hatinya abadi untuk-Nya.
Aku iri dengan mereka.
Hidup. Kaki mereka. Tangan mereka. Telinga mereka. Mulut mereka. Pikiran mereka. Hati mereka. Semangat mereka. Semua hidup tanpa bayang keraguan. Itulah jati diri. Kuat mencengkerama. Langkah mereka menjulang tinggi. Padahal tak ada sayap. Itu bukan angan-angan kosong.
Tak sadar aku telah iri. Pada mereka yang tulangnya tahan banting. Yang kepalanya tertunduk bukan lesu. Melainkan pandangan yang tak terundang maksiat. Yang wajahnya merekah bagai bunga merona. Tebaran senyum bukan sekedar pesona. Yang tangannya berurat, tapi lembut. Yang kedua kakinya kian bengkak karena enggan kenal henti. Yang hatinya abadi untuk-Nya.
Aku iri dengan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)